Desa Pohkecik di Mojokerto dikenal sebagai wilayah yang menyimpan kekayaan hayati, terutama pohon poh, mangga, dan sawo yang telah lama menjadi bagian dari identitas lingkungan setempat. Pohon poh yang daun mudanya sering digunakan sebagai lalapan menjadi salah satu tanaman yang memiliki fungsi penting dalam keseharian masyarakat. Daun pohpohan dikenal kaya nutrisi, mengandung antioksidan, serat, vitamin, serta mineral seperti kalsium, yang bermanfaat bagi kesehatan tulang. Selain itu, tanaman ini memiliki sifat anti-inflamasi dan antimikroba yang membuatnya semakin berharga sebagai sumber pangan lokal. Keberadaan mangga dan sawo di kawasan desa juga memperkuat karakter agraris masyarakat, sekaligus menjadi sumber pangan alami yang berkelanjutan
.Riwayat Desa Pohkecik tidak dapat dipisahkan dari cerita-cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Seperti banyak desa di Mojokerto, sejarahnya tidak selalu tercatat secara tertulis, melainkan hidup melalui dongeng dan tuturan lisan yang berkembang dari generasi ke generasi. Cerita-cerita tersebut kerap dikaitkan dengan pohon besar, tempat angker, atau lokasi-lokasi yang dipercaya memiliki nilai sakral. Identitas desa ini pun terbentuk tidak hanya dari lingkungan fisiknya, tetapi juga dari keyakinan dan kisah-kisah yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya.
Menurut kisah yang disampaikan masyarakat setempat, asal-usul nama “Pohkecik” bermula pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1800. Di depan kawasan Onderan Kecamatan Dlanggu, berdiri sebuah pohon raksasa yang dikenal sebagai Pohkecik gabungan kata poh (mangga) dan kecik (isi buah sawo). Pohon besar ini bukan hanya menjadi penanda wilayah, tetapi juga tempat berteduh para tengkulak dan bakul dari berbagai desa yang melewati area tersebut. Dari peran pohon inilah, kemudian nama Pohkecik disematkan sebagai identitas desa yang baru dibuka atau “dibabat alas” oleh para penduduk awal.
Selain menjadi penanda wilayah, keberadaan pohon Pohkecik besar tersebut turut menjadi saksi perjalanan sejarah desa. Pada masa itu, desa ini terbagi menjadi tiga dusun: Dusun Jenggot, Dusun Pohkecik, dan Dusun Kesamben. Ketiganya berkembang dalam satu kesatuan wilayah agraris yang subur. Pemerintahan desa pertama terbentuk pada tahun 1920, dengan Bapak Sriban tercatat sebagai Kepala Desa pertama yang memimpin masyarakat dalam masa transisi kolonial menuju pembentukan struktur pemerintahan lokal yang lebih mandiri. Hubungan sosial ekonomi masyarakat pada masa itu banyak terpusat di sekitar aktivitas perdagangan dan pertanian, di mana pohon poh dan tanaman buah lainnya menjadi bagian penting dalam ekosistem desa.
Seiring berjalannya waktu, perubahan administrasi dan dinamika sosial menyebabkan ketiga dusun tersebut dilebur menjadi satu wilayah besar yang hingga kini dikenal sebagai Dusun Pohkecik. Meski pohon raksasa yang menjadi asal-usul nama desa tidak lagi ada, cerita tentang keberadaannya tetap melekat kuat dalam memori masyarakat. Kisah tersebut terus dilestarikan sebagai identitas lokal yang membedakan Desa Pohkecik dari desa-desa lain di Mojokerto. Hingga saat ini, masyarakat tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam melalui pemanfaatan tanaman lokal seperti pohpohan, mangga, dan sawo, yang menjadi simbol keseimbangan antara sejarah, budaya, dan keberlanjutan lingkungan di Desa Pohkecik.