Desa Gembongan di Kecamatan Gedeg, Mojokerto, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan kondisi alamnya pada masa lalu. Wilayah ini dulunya merupakan hutan belantara yang lebat, dengan beragam hasil hutan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup masyarakat sekitar. Tumbuhan liar di kawasan hutan menjadi sumber pangan darurat, obat tradisional, hingga bahan kebutuhan sehari-hari. Banyak tanaman domestik yang kini dikenal masyarakat sejatinya berasal dari hutan-hutan seperti Gembongan, menunjukkan kuatnya hubungan antara penduduk dengan ekosistem alami. Kekayaan vegetasi ini menjadi bagian penting dari identitas lingkungan desa hingga sekarang.
Pada abad ke-18, kawasan yang kini menjadi Desa Gembongan masih berupa hutan angker yang sulit dijangkau. Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa warga pada masa itu tidak berani memasuki hutan tersebut, apalagi menebang pohon besar yang menjadi bagian dari lanskapnya. Kesan mistis dan rasa takut membuat area tersebut lama tidak tersentuh manusia. Namun, di balik itu semua, hutan tersebut menyimpan potensi besar berupa hasil hutan yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan dan pangan, baik secara langsung maupun setelah melalui proses domestikasi oleh masyarakat pada masa berikutnya.
Perubahan besar terjadi sekitar tahun 1885 ketika muncul seorang tokoh karismatik bernama Mbah Bongso Joyo. Ia dikenal memiliki kesaktian dan pengaruh besar, sehingga mampu menggerakkan warga untuk melakukan ngobah sebuah istilah Jawa yang berarti menggerakkan masyarakat untuk melakukan tindakan bersama. Atas dorongannya, warga yang awalnya takut mulai berani menebang pohon-pohon besar dan kecil, membersihkan area hutan untuk dijadikan pemukiman dan lahan pertanian. Langkah ini menandai awal terbentuknya permukiman yang kelak berkembang menjadi desa. Nama “Gobah” pun diberikan sebagai bentuk penghormatan atas tindakan ngobah yang dilakukan secara kolektif.
Seiring berkembangnya wilayah tersebut, banyak pendatang baru yang mulai berdatangan. Mereka bukan sembarang orang, melainkan tokoh yang memiliki pengetahuan tinggi atau keahlian tertentu. Kehadiran mereka sering disebut sebagai “gonbongan-gembongan,” yakni kelompok-kelompok pendatang yang datang secara rombongan. Istilah inilah yang kemudian memicu perubahan penamaan desa. Pada masa pemerintahan Atmoprawiro, masyarakat mengadakan Rembug Deso dan sepakat mengganti nama Desa Gobah menjadi Desa Gembongan, sebagai cerminan identitas baru yang lebih mencakup dinamika sosial di wilayah tersebut.
Di bawah kepemimpinan Atmoprawiro pula, Desa Gembongan mengalami berbagai kemajuan. Salah satu bentuk penghargaan atas kontribusinya adalah penamaan jalan utama desa sebagai Jalan Atmoprawiro, yang hingga kini menjadi pusat aktivitas wilayah tersebut. Transformasi dari hutan angker menjadi desa yang berkembang pesat menunjukkan perjalanan panjang yang penuh perubahan. Meski demikian, hubungan masyarakat dengan hasil hutan masih tetap terjaga melalui pemanfaatan tumbuhan alami untuk keperluan obat tradisional dan pangan darurat. Dengan sejarah panjang dan kekayaan alamnya, Desa Gembongan kini menjadi desa yang maju tanpa melupakan akar sejarah dan sumber daya alaminya.