Dusun Randuwates di Mojokerto memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan pohon randu, tumbuhan yang tidak hanya memberi identitas pada wilayah ini, tetapi juga memiliki manfaat pangan seperti buah muda untuk lalapan, biji bernutrisi sebagai pangan alternatif, serta daun yang berpotensi sebagai sumber kalsium dan antibakteri. Keberadaan pohon randu menjadi bagian penting dalam kisah awal mula terbentuknya Randuwates.Menurut cerita yang berkembang, pada masa Kerajaan Majapahit hiduplah seorang wanita sakti bernama Cilung, saudara kandung dari Sani tokoh pembuka wilayah Randurejo. Cilung adalah sosok pengembara yang gemar bertapa, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ketenangan batin dan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Dalam salah satu perjalanannya, ia tiba di sebuah hutan lebat yang dipenuhi pohon randu.
Cilung merasa tempat itu cocok sebagai lokasi pertapaan. Ia kemudian menetap dan mulai menebangi pohon randu untuk membangun tempat tinggal. Langkah penting berikutnya adalah mencari sumber air. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia membuat sebuah sumur yang kemudian menjadi sumber kehidupan pertama bagi wilayah Randuwates.Pertapaannya berlangsung damai hingga suatu hari ia mendengar rintihan seseorang yang sedang kesakitan. Dengan rasa belas kasih, Cilung menolong orang tersebut dan menggunakan kesaktiannya untuk menyembuhkan penyakitnya. Tanpa disangka, kesembuhan itu terjadi seketika. Kabar kemampuan Cilung pun menyebar luas, sehingga banyak orang berdatangan dari berbagai daerah untuk meminta pertolongan atau berguru kepadanya.
Dengan bantuan murid-muridnya, Cilung membabat habis pohon randu dan mendirikan sebuah perkampungan. Wilayah baru itu kemudian ia beri nama “Randuwates,” yang terinspirasi dari pohon randu yang dahulu memenuhi hutan tersebut. Di tempat itu, Cilung hidup damai hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pria tampan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Mereka tinggal dan membangun keluarga di Randuwates.
Sebagai penghormatan kepada Cilung, leluhur desa Randuwates, warga setempat hingga kini masih melakukan ritual di sumur peninggalannya. Tradisi tersebut menjadi pengingat akan jasa tokoh sakti ini sebagai pembuka hutan dan pendiri kampung Randuwates yang kini terus berkembang di Mojokerto.