Di wilayah barat Kabupaten Nganjuk yang dahulu masih berupa hutan rimba, hidup seorang tokoh yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Brewok. Ia adalah pengembara yang gigih, kuat, dan memiliki tujuan sederhana namun mulia, yaitu mencari tempat bermukim, membangun kehidupan baru, serta memiliki keturunan di tanah yang subur. Kisah perjalanannya menjadi awal mula lahirnya Desa Sukoharjo, desa yang kini dikenal sebagai daerah yang sejuk, tenteram, dan kaya sejarah.
Pada awalnya, Mbah Brewok menetap di Dusun Tukdadap. Namun setelah beberapa tahun, wilayah itu dilanda banjir besar yang memaksa ia dan para pengikutnya meninggalkan tempat tersebut. Mereka berjalan ke arah selatan melalui rimbunnya pepohonan, hingga akhirnya tiba di sebuah daerah yang dipenuhi pohon ploso. Di tempat itu, mereka mendapati bahwa hutan sudah lebih dulu dibuka oleh dua tokoh, yaitu Mbah Iro Drono dan Mbah Darinah. Keduanya telah membangun permukiman dan menggali sebuah sumur yang ternyata memiliki sumber air sangat besar. Karena itu, sumur tersebut diberi nama Sumur Gede, tempat yang kelak menjadi pusat kehidupan bagi penduduk setempat.
Pohon ploso yang banyak tumbuh memberi warna bagi daerah itu. Beberapa bagian dari pohon ploso, terutama daun dan kulit batangnya, sering dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional untuk meredakan berbagai keluhan. Keberadaan pohon ploso tidak hanya memberi keteduhan, tetapi juga menjadi sumber pangan obat yang membantu masyarakat bertahan hidup dalam masa awal pembukaan wilayah. Atas dasar itu pula, Mbah Iro Drono dan Mbah Darinah menamai permukiman tersebut sebagai Dusun Plosorejo.
Namun perjalanan Mbah Brewok tidak berhenti di situ. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun membabat hutan demi membuka lahan baru. Dari Plosorejo, ia menyisir wilayah ke arah timur hingga tiba di tempat yang anginnya sangat kencang. Udara yang sejuk dan semilir angin yang terus berembus membuat para pengikutnya menamai daerah itu Dusun Nganginan. Di tempat itu, Mbah Brewok beristirahat, tetapi nalurinya untuk membuka wilayah baru tidak pernah padam.
Ia kembali melanjutkan perjalanan, menyusuri hutan yang semakin lebat, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat di mana banyak tumbuh pohon suko. Pohon suko merupakan pohon yang bagian tertentu sering dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Jawa tempo dulu, seperti untuk membantu meredakan peradangan atau menghangatkan tubuh. Pohon ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat karena dapat diolah menjadi ramuan jamu. Saat Mbah Brewok beristirahat di bawah salah satu pohon suko, ia mendengar suara burung kutut yang berbunyi nyaring, “kung… kung… kung…” Suara itu memecah sunyi hutan dan membuat Mbah Brewok spontan berkata, “Wah kung”. Dari kata singkat itulah muncul nama Dusun Wakung, dusun yang kelak menjadi titik akhir perjalanan panjangnya.
Dusun Wakung adalah tempat yang membuat Mbah Brewok dan para pengikutnya merasa cocok untuk menetap. Wilayahnya subur, udaranya sejuk, dan pohon sukonya tumbuh begitu banyak, memberi tanda bahwa tempat itu baik untuk kehidupan baru. Perlahan lahan, permukiman itu semakin ramai dan berkembang. Karena pohon suko menjadi ciri khas wilayah tersebut, Mbah Brewok kemudian menamai desa hasil penyatuannya dengan nama Sukoharjo. Dengan tekad dan kerja keras, ia berhasil menyatukan empat dusun, yakni Tukdadap, Plosorejo, Nganginan, dan Wakung, menjadi satu desa yang makmur, damai, dan terus berkembang hingga hari ini.
Kisah Desa Sukoharjo bukan hanya cerita tentang pembukaan hutan dan penamaan wilayah, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam yang menyediakan sumber kehidupan. Pohon ploso dan pohon suko menjadi bagian penting dalam cerita ini. Keduanya menyediakan manfaat obat yang membantu masyarakat bertahan, sembuh, dan hidup berdampingan dengan alam. Masyarakat kuno memahami bahwa tanaman bukan hanya pelengkap hutan, tetapi penopang keseharian.
Melalui kisah ini, pembaca diajak memahami bahwa desa desa di Jawa Timur lahir dari perjuangan, kebijaksanaan, dan kecintaan terhadap alam. Desa Sukoharjo mengajarkan bahwa kearifan lokal tidak hanya tumbuh dari tradisi, tetapi juga dari hubungan harmonis antara manusia dengan hutan yang memberi kehidupan. Pohon ploso dan suko menjadi simbol keseimbangan, pengingat bahwa alam akan selalu memberi jika manusia menjaga dan menghormatinya. Dari perjalanan panjang Mbah Brewok, kita belajar bahwa sebuah desa dapat tumbuh menjadi tempat yang tentram apabila manusia berjuang dan hidup selaras dengan alam.