Desa Gondang

URL Cerital Digital: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gondang,_Nganjuk

Di wilayah utara Kabupaten Nganjuk, terdapat sebuah kecamatan yang sejak lama terkenal dengan hamparan ladang bawang merah dan jajanan tradisional yang manis aromanya. Kecamatan itu bernama Gondang, sebuah tempat yang berada di antara dataran rendah subur dan perbukitan kering Pegunungan Kendeng. Di balik kehidupan warganya yang damai, tersimpan sebuah cerita rakyat tentang asal usul makanan khas yang masih lestari hingga hari ini, sebuah pangan tradisional bernama dumbleg.

Dumbleg adalah jajanan manis yang terbuat dari campuran gula jawa, tepung beras, santan, dan dibungkus menggunakan daun yang memberi aroma khas. Bentuknya mirip gumpalan kecil yang padat, lembut ketika digigit, dan manis yang tidak membuat enek. Bagi masyarakat Gondang, dumbleg bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah penanda sejarah, bagian dari identitas desa, dan simbol hubungan manusia dengan alam yang menyediakan bahan pembuatannya.

Kisah tentang dumbleg bermula pada masa babat alas di wilayah Gondang bagian utara. Saat itu, wilayah Gondang masih berupa hutan belantara. Bagian utara kecamatan dikelilingi bukit bukit Kendeng yang kering, jauh dari pemukiman, dan dipenuhi pohon jati milik Perhutani. Di antara hutan jati itu terdapat sebuah desa terpencil bernama Losari. Tempat ini sangat sunyi, namun menyimpan kisah para leluhur yang membuka daerah tersebut dari tanah yang liar.

Alkisah, seorang tokoh sakti yang tidak disebutkan namanya datang ke sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Gondang. Ia bertekad membabat hutan dan membuka lahan bagi masyarakat. Hari hari ia habiskan menebang pohon liar, membersihkan semak belukar, serta mempersiapkan tanah untuk dijadikan permukiman dan lahan pertanian. Namun pekerjaan itu tidak mudah. Hutan yang lebat membuat tubuhnya cepat lelah. Saat tenaganya melemah dan perutnya mulai lapar, ia merasa membutuhkan makanan yang bisa mengembalikan tenaganya dengan cepat.

Pada suatu waktu, sang pembabat hutan menemukan bahan bahan sederhana yang tersedia di sekitarnya. Ada daun daun lebar yang harum ketika diremas, sedikit tepung beras yang ia bawa dalam perjalanan, dan gula jawa hasil barter dengan penduduk desa lain yang ditemuinya di perjalanan. Dengan kreativitasnya, ia mencampur tepung dan gula jawa, menambahkan sedikit air, lalu membungkusnya dalam daun. Ia memanaskan campuran itu di dekat api unggun yang biasa ia gunakan untuk beristirahat. Dari proses sederhana itu, terciptalah makanan kecil beraroma daun dan berasa manis kuat yang mampu mengembalikan tenaganya.

Makanan itulah yang kini kita kenal sebagai dumbleg.

Dumbleg menjadi teman setia sang tokoh selama masa babat alas berlangsung. Setiap kali merasa lelah setelah seharian menebang pohon atau membuka semak, ia membuat dumbleg untuk mengganjal perutnya. Karena bentuknya kecil dan mudah dibawa, ia bisa menikmatinya di sela pekerjaan tanpa harus berhenti lama. Makanan itu menjadi penopang semangatnya hingga akhirnya wilayah Gondang mulai terbuka dan siap dihuni.

Ketika penduduk lain mulai berdatangan dan bermukim, mereka belajar membuat dumbleg dari sang tokoh. Lama kelamaan, dumbleg menyebar menjadi makanan khas masyarakat. Tradisi ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dumbleg menjadi sajian wajib pada acara hajatan, sedekah desa, dan pertemuan keluarga. Ia menjadi simbol betapa sebuah makanan sederhana dapat lahir dari kesulitan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Di Gondang bagian selatan, tanah yang subur membuat masyarakat mampu menanam bawang merah dalam jumlah besar hingga menjadi salah satu sentra produksi bawang terbesar di Nganjuk. Namun di bagian utara, dumbleg tetap menjadi identitas tersendiri. Desa desa terpencil di perbukitan Kendeng tetap mempertahankan tradisi membuat dumbleg sebagai wujud penghormatan kepada leluhur yang dahulu membuka wilayah itu.

Kisah ini menunjukkan bahwa pangan tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang jejak perjalanan manusia. Dumbleg lahir dari ketekunan, kreativitas, dan hubungan erat dengan alam sekitar. Daun pembungkusnya berasal dari hutan, gula jawanya dari petani, tepungnya dari hasil bumi, dan kisah penciptanya dari perjuangan membuka hutan belantara.

Desa Gondang mengajarkan bahwa makanan tradisional adalah warisan budaya yang perlu dijaga. Dumbleg bukan sekadar jajanan manis, tetapi lambang kerja keras, kecerdikan, dan kearifan lokal. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat Gondang tidak hanya merawat sebuah resep, tetapi juga menghormati sejarah leluhur.

Melalui cerita ini, pembaca dapat memahami bahwa setiap wilayah memiliki pangan khas yang lahir dari kebutuhan manusia dan ketersediaan alam. Gondang dengan dumblegnya adalah pengingat bahwa di balik setiap makanan tradisional, selalu ada kisah perjuangan dan nilai kebersamaan yang layak diteruskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.