Desa Trawas di Mojokerto menyimpan kisah sejarah yang terkait erat dengan keberadaan dua jenis pohon yang menjadi penanda wilayah, yaitu pohon Jaraan dan pohon Kemloko. Kedua pohon ini bukan hanya menjadi asal nama dusun-dusun di dalamnya, tetapi juga memiliki nilai historis dan kultural yang penting bagi masyarakat setempat. Salah satunya, pohon Kemloko atau Malaka/Amla, yang buahnya kaya vitamin C, antioksidan, serta serat sehingga bermanfaat bagi kesehatan dan dapat diolah menjadi manisan atau dikonsumsi langsung.
Dikisahkan bahwa Dusun Jaraan mendapatkan namanya dari keberadaan pohon Jaraan yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Sementara itu, Dusun Kemloko berasal dari pohon Kemloko yang hingga kini masih dapat ditemukan, salah satunya di kawasan Bukit Asri. Pohon ini dahulu menjadi penanda penting bagi wilayah tersebut dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pembukaan wilayah Dusun Kemloko diyakini dilakukan oleh seorang tokoh bernama Mbah Bambang Buntoro Arjo. Beliaulah yang membabat hutan dan membuka lahan hingga dusun tersebut dapat dihuni. Menariknya, sejarah Dusun Kemloko telah ada bahkan sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit, menandakan bahwa kawasan ini telah menjadi permukiman tua dengan sejarah panjang.
Pada masa awal, wilayah tersebut dikenal dengan nama Desa Bintoro Gede, kemudian berganti menjadi Kemloko Gede, dan selanjutnya disingkat menjadi Kemloko. Seiring perkembangan penduduk dan kebutuhan administrasi, Dusun Kemloko, Dusun Jaraan, serta wilayah Trawas memutuskan untuk bergabung menjadi satu kesatuan, yang kini dikenal sebagai Desa Trawas.
Dengan begitu, sejarah Desa Trawas bukan sekadar rangkaian pergantian nama, tetapi perjalanan panjang dari hutan-hutan yang dibuka oleh para leluhur hingga menjadi desa yang maju. Kehadiran pohon Jaraan dan Kemloko menjadi simbol penting yang mengikat identitas desa hingga hari ini.