Legenda Sumberbeji

URL Cerital Digital: https://joinmedia.id/2024/01/petirtan-sumberbeji-jejak-3-kerajaan-besar-di-jombang/

Di kaki pegunungan Jombang, tepatnya di Dusun Sumberbeji, terdapat sebuah peninggalan kuno yang menyimpan jejak masa lampau. Masyarakat menyebutnya Petirtaan Sumber Beji. Kini tempat itu tampak seperti kolam pemandian biasa, namun di balik kejernihan airnya, tersimpan kisah panjang tentang raja, kesucian, dan pangan lokal yang tumbuh dari anugerah alam.

Konon, pada masa Medang Kahuripan ketika Prabu Airlangga berkuasa, kawasan itu merupakan wilayah penting yang dijaga kesuburannya. Mata air yang memancar dari perut bumi bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga berkaitan dengan upacara penyucian diri keluarga kerajaan. Tempat itu dipercaya sebagai lokasi pemandian suci yang menghubungkan manusia dengan alam semesta.

Berabad abad kemudian, area itu menjadi lahan persawahan milik warga Sumberbeji. Sumber mata air yang dahulu dijaga ketat kini menjadi bagian dari irigasi. Tak ada yang menyangka bahwa di bawah tanah sawah itu, tidur tenang sebuah bangunan kuno dari bata merah.

Pada suatu hari, warga bergotong royong untuk memperbesar aliran sumber air. Saat menggali, mereka menemukan susunan bata yang tampak tertata rapi seperti saluran air kuno. Rasa penasaran pun tumbuh di benak mereka. Setelah menduga adanya peninggalan penting, mereka melapor ke Balai Pelestarian dan Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.

Penggalian resmi dilakukan pada tahun 2019. Ketika tanah digali lebih dalam, tampaklah struktur petirtaan berbentuk persegi dengan batur di bagian tengah. Di sisi barat, terdapat kanal memanjang yang menjadi jalan masuk air. Sementara di dindingnya, terlihat sebuah arca garuda dari batu andesit menghadap ke timur, seakan menjaga kesucian tempat itu sejak masa lampau.

Ahli arkeologi memperkirakan bahwa petirtaan ini dibangun pada abad ke tiga belas hingga empat belas, masa kejayaan Majapahit, meski fungsinya mungkin telah dimulai sejak era Prabu Airlangga. Di sisi atas, terdapat struktur menyerupai kura kura, simbol keselamatan dan kekuatan bumi dalam kepercayaan kuno. Jaladwara atau pancuran air juga ditemukan di berbagai sisi, menunjukkan bahwa air pernah mengalir deras di petirtaan itu.

Namun bagi masyarakat setempat, situs ini bukan hanya bangunan tua. Mata airnya telah lama menjadi sumber pangan sehari hari. Air yang mengalir dari Petirtaan Sumber Beji dipercaya memberi kesuburan pada tanaman padi dan tumbuhan air lainnya seperti genjer, keladi, dan pakis air yang menjadi bahan pangan tradisional.

Ada sebuah legenda turun temurun yang diceritakan para tetua desa. Mereka percaya bahwa air Sumber Beji memiliki roh penjaga yang memastikan tanah tetap subur. Dalam kisah itu, ketika keluarga kerajaan dahulu melakukan penyucian diri sebelum upacara besar, air dari petirtaan dipercaya membawa berkah bagi rakyat. Setelah ritual selesai, air yang mengalir keluar ke sawah sawah di sekitar desa membawa kesuburan yang hidup hingga kini.

Karena itulah, banyak pangan lokal yang tumbuh di daerah itu dianggap sebagai wujud syukur terhadap alam. Nasi hasil padi yang dialiri air Sumber Beji terkenal pulen dan wangi. Sayuran air yang tumbuh di sekitarnya kerap diolah menjadi pecel, tumisan, atau sayur bening, menjadi pangan sehari hari yang lekat dengan identitas masyarakat Jawa Timur. Bahkan hingga kini, ketika petirtaan telah menjadi tempat wisata, warga masih memanfaatkan areal utara situs sebagai kolam pemandian sekaligus sumber kehidupan bagi sawah sekelilingnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.