Legenda Raden Banterang dan Putri Surati

URL Cerital Digital: https://www.urbanjabar.com/featured/9210219374/cerita-rakyat-jawa-timur-legenda-asal-usul-banyuwangi-kisah-raden-banterang-dan-putri-surati

Pada masa silam ketika ujung timur Pulau Jawa masih diselimuti hutan lebat, hiduplah sebuah kerajaan yang makmur. Rakyatnya hidup tenteram karena dipimpin oleh Raden Banterang, seorang raja yang terkenal adil, berani, dan gemar menjaga keseimbangan alam. Kerajaan itu dianugerahi tanah subur, air yang jernih, serta hutan luas yang menjadi sumber pangan melalui berbagai hewan buruan, termasuk kijang yang lincah dan anggun.

Raden Banterang memiliki kebiasaan turun ke hutan untuk berburu. Bagi masyarakat kala itu kegiatan berburu bukan sekadar hiburan bagi kaum bangsawan tetapi juga cara mengatur populasi satwa dan memastikan ketersediaan pangan yang seimbang. Kijang menjadi salah satu hewan buruan penting karena dagingnya dihargai dan keberadaannya melambangkan kelimpahan hutan.

Pada suatu pagi yang cerah Raden Banterang memasuki hutan ditemani angin lembut. Di dekat sebuah sungai ia melihat seekor kijang yang sedang menunduk minum. Bulunya coklat keemasan dan tubuhnya bergetar waspada. Raden Banterang mengambil busurnya lalu melepaskan panah. Namun panah itu meleset dan menancap di pohon. Kijang tersebut terkejut dan melompat masuk ke dalam rimbunnya pepohonan. Dengan kuda setia Raden Banterang mengejar hewan itu hingga tiba di sungai lain yang berada dekat sebuah air terjun yang tinggi.

Ketika sedang mengawasi semak belukar di tepi air terjun ia mendengar suara lembut memanggilnya. Suara itu bukan suara kijang melainkan seorang perempuan. Dari balik semak muncullah seorang gadis yang wajahnya teduh seperti rembulan malam. Ia memperkenalkan diri sebagai Surati putri dari Kerajaan Klungkung yang hancur akibat perang. Ia melarikan diri ke hutan demi menyelamatkan nyawanya. Raden Banterang yang dikenal berhati mulia terharu mendengar kisah itu. Ia pun membawa Surati ke istana untuk memberinya perlindungan.

Waktu berjalan dan Surati menjadi permaisurinya. Meski hidup dalam kenyamanan istana ia tetap menjaga kesederhanaan serta menghargai alam yang pernah menyelamatkannya. Namun kegemaran Raden Banterang untuk berburu tidak pernah surut. Baginya hutan adalah tempat untuk menguji ketangkasan sekaligus menjaga hubungan antara manusia dan alam.

Suatu hari ketika Raden Banterang berangkat berburu seseorang diam diam mengawasinya. Laki laki berwajah letih dan berpakaian compang camping itu adalah Rupaksa kakak kandung Surati. Dengan dendam membara ia menyusup ke dalam istana dan menemui Surati. Rupaksa menuduh bahwa ayah mereka dibunuh oleh Raden Banterang. Surati yang mengenal kebaikan hati suaminya terkejut. Ia menolak untuk percaya. Namun Rupaksa yang dikuasai kedukaan dan amarah memaksa Surati menerima sebuah ikat kepala. Ia mengancam agar Surati membantu rencana balas dendamnya.

Tidak lama kemudian Rupaksa menghadang Raden Banterang yang sedang berburu. Ia menebarkan fitnah bahwa Surati berniat membunuh suaminya. Ia bahkan mengatakan bahwa bukti rencana jahat itu tersembunyi di bawah tempat tidur Surati. Raden Banterang yang diliputi amarah dan gelisah bergegas pulang ke istana. Ketika ia melihat ikat kepala itu ia langsung menuduh Surati berkhianat. Surati berusaha menjelaskan bahwa orang yang ditemui suaminya adalah kakaknya sendiri. Namun kata katanya tak mampu menembus kecurigaan Raden Banterang.

Dengan hati hancur Surati melarikan diri ke tebing air terjun tempat ia dulu ditemukan. Di tepian jurang ia berkata dengan suara yang bergetar bahwa ia akan membuktikan ketulusan hatinya melalui air. Air terjun itu mengalir ke sungai yang diyakini masyarakat sebagai tempat penguji kesucian. Surati berkata bahwa jika air di bawah berubah berbau harum maka ia tidak bersalah. Tetapi jika air berubah berbau busuk maka ia memang berniat jahat.

Sebelum Raden Banterang sempat menghentikannya Surati terjun dari tebing dan tubuhnya ditelan arus deras. Raja berdiri terpaku menanti tanda dari alam. Tak lama kemudian dari dasar air menguar aroma harum yang lembut bagai bunga mekar. Air itu menjadi saksi kemurnian hati Surati. Raden Banterang tersungkur menyesali dirinya. Ia menangis memohon maaf pada perempuan yang pernah ia selamatkan namun tidak ia percaya di saat terakhir.

Sejak peristiwa itu masyarakat menyebut tempat tersebut dengan nama Banyuwangi. Dari bahasa Jawa banyu berarti air dan wangi berarti harum. Air harum itu menjadi simbol kesucian hati Surati serta pengingat bagi manusia agar tidak mudah terhasut kebencian.

Air dan kijang dalam kisah ini memiliki makna penting. Kijang menggambarkan hubungan manusia dengan alam sebagai sumber pangan. Manusia yang bijak akan memanfaatkan hutan tanpa merusaknya. Air sebagai tempat pembuktian menjadi lambang kemurnian niat dan keseimbangan alam yang selalu memberi tanda bagi mereka yang ingin membaca hikmahnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa pangan dan alam bukan semata sumber kehidupan melainkan mitra bagi manusia untuk terus menjaga harmoni. Dari kijang yang lincah hingga air yang jernih semuanya adalah pengingat bahwa alam akan membalas sesuai perlakuan kita. Raden Banterang dan Putri Surati mengajarkan bahwa kepercayaan jauh lebih berharga daripada prasangka dan bahwa kearifan lokal Jawa Timur senantiasa menempatkan alam sebagai saksi kebenaran dan penjaga keseimbangan hidup manusia. Semoga cerita ini membuat kita lebih menghargai alam beserta sumber pangannya dan selalu berhati jernih dalam menghadapi segala sesuatu.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.