Di ujung timur Pulau Jawa, ketika hutan masih membentang luas dan kampung kampung belum banyak berdiri, hiduplah dua saudara laki laki di sebuah dusun bernama Wonorokso. Mereka dikenal sebagai kakak beradik yang hidup rukun sejak masa kecil hingga usia lanjut. Keduanya sama sama menggemari pekerjaan memelihara lembu dan mengolah tanah pertanian. Karena jumlah lembu yang mereka pelihara mencapai puluhan ekor dan lahan garapan mereka sangat luas, masyarakat kemudian memberi mereka julukan Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti.
Bagi masyarakat waktu itu lembu bukan hanya hewan ternak yang bernilai ekonomi tetapi juga simbol kerja keras dan salah satu sumber pangan penting. Lembu dapat membantu membajak sawah, menghasilkan susu, hingga menjadi cadangan pangan bagi keluarga besar. Itulah sebabnya kehadiran puluhan lembu di tangan dua saudara ini menjadikan mereka dihormati sekaligus dianggap sebagai cikal bakal dusun Wonorokso dan wilayah sekitarnya.
Kehidupan dua keluarga besar ini berlangsung damai. Mereka saling membantu dalam pekerjaan sehari hari dan saling mengingatkan ketika ada kesalahan. Tidak ada rasa tersinggung, tidak ada iri hati, dan tidak ada perebutan kekuasaan. Kerukunan inilah yang menjadi kunci kesejahteraan mereka. Anak cucu mereka tumbuh semakin banyak dan kebersamaan menjadi landasan hidup seluruh keturunan kedua lelaki itu.
Namun seiring berlalunya waktu lahan pertanian yang tersedia semakin terasa sempit. Keluarga semakin besar dan kebutuhan pangan pun meningkat. Ki Lembu Setata mulai memikirkan cara untuk menemukan lahan baru yang lebih luas. Ia mengajak adiknya bermusyawarah dan Ki Lembu Sakti menyetujui rencana tersebut.
Pada hari Soma Manis di bulan Besar rombongan keluarga besar mereka berangkat menuju wilayah barat. Setelah berjalan setengah hari mereka tiba di padang alang alang yang luas. Tanahnya terlihat cukup subur sehingga mereka memutuskan untuk membuka lahan di sana. Gubuk gubuk darurat didirikan. Berhari hari mereka membabat ilalang dan mengolah tanah hingga siap ditanami. Beragam tanaman seperti padi, jagung, dan palawija mereka tanam dengan harapan panen akan berlimpah. Sayangnya hasil panen tidak begitu memuaskan. Meski begitu mereka tetap bersyukur dan akhirnya memutuskan mencari lahan baru. Tempat itu kemudian diberi nama Alasmalang yang hingga kini masih dapat ditemukan di Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.
Beberapa hari kemudian, Ki Lembu Setata berangkat lagi bersama sebagian rombongan. Mereka berjalan ke arah barat lalu berbelok ke selatan. Setelah perjalanan satu hari penuh mereka tiba di padang rumput yang luas tanpa satu pohon pun. Tanahnya sangat subur sehingga mereka langsung memutuskan untuk membuka lahan baru. Tanaman tumbuh dengan subur dan hasil panennya cukup memuaskan. Tempat itu diberi nama Padang yang berarti tanah terbuka tanpa pepohonan.
Seiring berjalannya waktu jumlah keturunan mereka terus bertambah dan lahan di Padang pun semakin sempit. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pangan mereka kembali mencari wilayah baru. Penjelajahan pun dimulai. Mereka membawa lembu, kerbau, kambing, kuda, dan seluruh milik mereka. Selama dua hari perjalanan mereka akhirnya tiba di tepi hutan yang lebat. Di sana mereka mendirikan pondok sementara dan memulai pekerjaan besar yaitu membabat hutan untuk lahan pertanian.
Kali ini mereka membuat aturan agar pekerjaan menjadi lebih teratur. Kelompok keturunan Ki Lembu Setata memulai penebangan dari arah selatan sedangkan kelompok Ki Lembu Sakti memulai dari utara. Selama hampir dua bulan mereka bekerja tanpa lelah. Pada suatu hari kedua kelompok itu akhirnya bertemu di tengah tengah hutan. Pertemuan itu menandakan seluruh hutan yang ditargetkan sudah terbuka menjadi lahan siap garap.
Tanahnya begitu gembur sehingga tidak perlu dicangkul dalam dalam. Cukup digaruk garuk saja lahan sudah siap ditanami. Bibit yang mereka bawa dari Padang sangat banyak dan beragam. Mereka menanam semua bibit itu. Ketika musim panen tiba hasilnya benar benar melimpah. Kehidupan kedua keluarga besar ini semakin sejahtera. Anak cucu mereka hidup rukun dan bahagia berkat kerja sama yang kuat serta kebiasaan saling mengingatkan satu sama lain.
Agar sejarah hidup mereka tidak dilupakan Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti sepakat memberi nama perkampungan itu dengan sebutan Cathuk. Nama itu berasal dari gabungan dua kata yaitu caruk caruk dan kepethuk yang menggambarkan cara mereka membuka lahan dan pertemuan kedua kelompok di tengah hutan. Seiring waktu sebutan Cathuk berubah menjadi Canthuk yang sampai saat ini tetap menjadi nama sebuah desa subur di Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.
Kisah Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti memperlihatkan bagaimana lembu sebagai hewan ternak memegang peranan besar dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur. Lembu tidak hanya menjadi sumber kekuatan untuk mengolah sawah tetapi juga penanda kejayaan keluarga, penopang persediaan pangan, dan simbol kerja sama antargenerasi. Melalui lembu kedua saudara ini menjaga kelangsungan hidup banyak keturunan hingga desa desa baru dapat berkembang dengan subur.
Dari kisah ini kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam sangat penting. Tanah subur, padang rumput, dan lembu peliharaan adalah bagian dari rantai kehidupan yang harus dijaga agar tetap harmonis. Kerukunan, gotong royong, dan sikap saling menghargai menjadi nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur kita. Pesan moral dari cerita ini mengajak kita untuk menghargai alam sebagai sumber penghidupan dan menjaga kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Semoga kisah Ki Lembu Setata dan Ki Lembu Sakti mengingatkan kita bahwa pangan, tanah, dan hewan ternak adalah aset budaya yang perlu dirawat untuk kehidupan yang berkelanjutan.