Pada masa ketika Sumenep masih berada dalam bayang-bayang perang dan paceklik, hiduplah seorang tokoh penting bernama Pangeran Katandur. Ia adalah cucu Sunan Kudus dan dikenal sebagai pemimpin pertanian yang pertama kali memperkenalkan cara bercocok tanam di Desa Parsanga dan wilayah sekitarnya pada pertengahan abad ke tujuh belas. Di tengah kekacauan akibat hujan yang tak kunjung turun dan peperangan yang menguras tenaga rakyat, Pangeran Katandur hadir membawa harapan melalui pengetahuan pertanian yang ia ajarkan. Berkat bimbingannya, masyarakat mampu meningkatkan hasil panen hingga berlipat ganda. Bencana kelaparan yang mengancam akhirnya dapat diatasi melalui kecakapan mengolah tanah, memelihara biji, dan memahami alam yang diwariskan sang pangeran.
Selain ahli dalam bidang pangan, Pangeran Katandur juga memiliki garis keturunan Arab. Hal itu membuatnya dikenal pula sebagai penyebar ajaran Islam di daerah tersebut. Selama beberapa generasi, ajarannya tentang bertani dan beribadah diwarisi turun-temurun hingga akhirnya sampai pada Bhindhara Saod. Bhindhara Saod kemudian diasuh oleh pamannya yang dikenal sebagai Kyai Pekke. Kyai ini memiliki banyak santri, dan Bhindhar Saod menjadi salah satu yang menonjol di antaranya.
Pada suatu malam yang sunyi, Kyai Pekke memeriksa para santrinya yang sedang tidur bersama di langgar. Dalam kegelapan, ia melihat cahaya samar memancar dari arah salah seorang santri. Merasa penasaran, ia mendekat lalu memberi tanda kecil dengan melubangi sarung santri itu menggunakan bara rokok agar dapat dikenali keesokan harinya. Ketika pagi tiba dan Kyai memeriksa pakaian para santri, ternyata santri yang sarungnya berlubang adalah Bhindhara Saod. Sejak saat itu Kyai Pekke percaya bahwa Bhindhara Saod memiliki keistimewaan yang kelak akan membawa pengaruh besar.
Bhindhara Saod tumbuh menjadi pria bijak dan berkeluarga dengan Nyai Isza. Mereka dikaruniai dua anak yaitu Ario Pacinan dan Sumolo yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Notokusumo. Nama mereka kemudian tercatat dalam sejarah lokal sebagai tokoh penting Sumenep.
Suatu hari, kabar tak biasa datang dari keraton. Ratu Tirtonegoro bermimpi bahwa dirinya ditakdirkan untuk menikahi Bhindhara Saod, putra Bhindhara Bungso yang tinggal di Batu Ampar. Karena mimpi itu diyakini sebagai pertanda, sang ratu mengutus menteri untuk memanggil Bhindhara Saod agar datang ke keraton. Ketika perintah itu disampaikan, Bhindhara Saod menyambutnya dengan penuh hormat. Setelah keduanya berdiskusi dan mencapai kesepakatan, pernikahan dilangsungkan. Sejak itu, istrinya menerima gelar Tumenggung Tirtonegoro dan mereka menetap di keraton sebagai bagian dari keluarga bangsawan Sumenep.
Namun kabar bahagia ini tidak diterima dengan tangan terbuka oleh semua pihak. Patih Sumenep, Purwonegoro, diam-diam menyimpan hasrat untuk meminang Ratu Tirtonegoro. Mendengar rencana pernikahan tersebut, amarahnya bangkit. Ia menolak datang ketika dipanggil ratu. Alih-alih menunjukkan hormat, ia justru menantang Bhindhara Saod untuk berperang. Tantangan itu menciptakan ketegangan baru di antara para pemimpin, sekaligus menjadi bagian penting dari cerita rakyat yang terus dikenang hingga kini.
Di balik kisah para tokoh dan peristiwa besar itu, terdapat satu benang merah yang tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Sumenep yaitu pangan. Dari masa Pangeran Katandur, masyarakat diajarkan melihat tanah sebagai sumber kehidupan. Tanah yang subur, air yang dicari dengan sabar, dan biji yang ditanam dengan harapan menjadi pondasi dasar bagi ketahanan hidup masyarakat. Ajaran bercocok tanam yang diwariskan sang pangeran telah menyelamatkan banyak orang dari kelaparan dan terus menjadi pedoman untuk menjaga kesinambungan pangan daerah.
Cerita ini bukan hanya dongeng tentang tokoh besar atau ketegangan di lingkungan keraton. Ini adalah pengingat bahwa kearifan lokal dalam mengelola alam adalah warisan paling berharga. Pangeran Katandur dan Bhindhara Saod mengajarkan bahwa pangan bukan sekadar hasil panen tetapi juga simbol kebijaksanaan. Ketika masyarakat menjaga tanah, memelihara benih, dan menghargai proses bercocok tanam, mereka sedang menjaga keberlangsungan hidup bagi generasi yang akan datang.
Dari kisah ini kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam selalu saling bergantung. Pangan hadir bukan hanya untuk mengenyangkan tetapi untuk mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan rasa syukur. Nilai inilah yang membuat cerita rakyat dari Sumenep terus hidup, menjadi pengingat bahwa kesejahteraan akan tercapai ketika manusia menghormati alam serta memanfaatkan pengetahuan leluhur dengan bijaksana.