Desa Sraten

URL Cerital Digital: https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/416603/mengenal-desa-sraten-banyuwangi-kandang-gajah-era-kerajaan-blambangan#:~:text=Ternyata%2C%20oh%20ternyata.,kandang%20gajah%20diera%20kerajaan%20Blambangan.&text=**)%20Ikuti%20berita%20terbaru%20TIMES,dan%20jangan%20lupa%20di%20follow.

Di tepian hutan Banyuwangi, ketika kerajaan Blambangan masih berdiri tegak dan hiruk pikuk para bangsawan mewarnai perjalanan sejarah, terdapat sebuah wilayah yang kelak dikenal sebagai Desa Sraten. Pada masa itu tanah tanah subur masih membentang luas, menjadi ladang dan sawah yang menghasilkan padi sebagai sumber pangan pokok masyarakat. Di sinilah kisah Desa Sraten bermula, sebuah desa yang sejarahnya berkaitan erat dengan sawah, kekuasaan, dan hewan perkasa yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan kerajaan yaitu gajah.

Nama Sraten diyakini berasal dari kata Srati yang berarti tonggak atau batu besar yang ditancapkan ke tanah. Tonggak ini bukan sekadar penanda wilayah. Ia digunakan untuk mengikat gajah, hewan besar yang dulunya menjadi simbol kemegahan dan kekuatan para raja. Menurut kisah yang dituturkan oleh sejarawan muda Banyuwangi Aji Nur Hidayat, Desa Sraten adalah tempat kandang gajah milik Raja Danurejo putra Danuningrat yang hidup pada masa sekitar tahun 1705 hingga 1763.

Pada zaman itu jalur utama menuju wilayah Muncar belum seperti sekarang. Jalan besar yang sekarang dikenal sebagai pertigaan Srono belum tercipta. Dahulu perjalanan ke Muncar melewati kawasan Genting kemudian melalui Sraten lalu berlanjut ke arah timur. Raja Danurejo bermukim di Muncar sehingga keberadaan kandang gajah di Sraten merupakan bagian penting dari jalur strategis kerajaan.

Gajah gajah yang dipelihara di Sraten bukan hanya simbol kekuasaan. Mereka juga berperan dalam pembangunan wilayah serta pengelolaan sawah dan ladang. Kekuatan gajah sering dimanfaatkan untuk menarik kayu besar, membuka lahan baru, dan membantu memperbaiki saluran air yang mengalir ke hamparan sawah. Mereka menjadi bagian dari siklus kehidupan masyarakat yang bergantung pada padi sebagai pangan utama. Dengan bantuan tenaga gajah beberapa wilayah sawah dapat dibuka lebih cepat dan irigasi dapat dirapikan sehingga tanaman padi tumbuh subur.

Hingga kini peninggalan sejarah tentang kandang gajah masih dapat dirasakan melalui nama nama wilayah di sekitar Sraten. Salah satunya adalah kawasan Kedawung tempat makam Mbah Gitik berada. Gitik adalah sebutan untuk pecut atau cambuk yang digunakan para pawang gajah untuk menggembala hewan besar itu. Kehadiran makam tersebut menjadi petunjuk yang diwariskan dari masa lalu bahwa Sraten pernah menjadi pusat pemeliharaan gajah kerajaan.

Selain sebagai tempat kandang gajah kawasan ini dikenal sebagai daerah pertanian yang subur. Hamparan sawahnya luas dan air yang mengalir ke sana berasal dari saluran irigasi alami yang dijaga turun temurun. Padi yang tumbuh di sawah Sraten menjadi makanan pokok masyarakat dan penopang kehidupan sehari hari. Tanahnya yang subur mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan yang dijaga sejak masa kerajaan.

Kisah Desa Sraten mengingatkan kita bahwa pangan dan sejarah sering berjalan beriringan. Sawah yang menghasilkan padi tidak hanya berasal dari kerja keras para petani tetapi juga didukung oleh peran hewan dan teknologi tradisional pada masanya. Gajah yang dulu tinggal di Sraten memberi kontribusi besar bagi pembangunan lahan pertanian. Kehadiran mereka adalah bukti bahwa manusia pada masa itu memahami bagaimana memanfaatkan kekuatan alam dengan bijak tanpa merusaknya.

Dari kisah ini tersimpan nilai kearifan lokal bahwa setiap unsur alam memiliki peran dalam kehidupan manusia. Sawah memberi pangan, air memberi kehidupan, tanah memberi tempat bernaung, dan hewan memberi tenaga untuk membantu pekerjaan berat. Masyarakat Sraten mewarisi ingatan bahwa kerja sama antara manusia dan alam dapat menciptakan masa depan yang sejahtera.

Semoga cerita Desa Sraten ini mengajak kita untuk lebih menghargai tanah, sawah, air, serta semua makhluk yang pernah membantu kehidupan manusia. Pangan tidak lahir dari satu tangan saja tetapi dari rangkaian panjang sejarah dan harmoni dengan alam. Nilai nilai inilah yang harus terus dijaga agar generasi mendatang dapat menikmati kehidupan yang berkelanjutan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.