Di sebuah dataran sunyi di barat Teluk Pang Pang, ketika hutan masih lebat dan angin laut membawa aroma garam yang samar, berdirilah sebuah kampung yang kelak dikenal sebagai Desa Kedunggebang. Pada masa awal, wilayah ini merupakan hamparan alam liar yang dipenuhi tumbuhan khas, terutama pohon gebang yang menjulang tinggi di sekeliling sebuah telaga alami. Telaga itu disebut kedung oleh penduduk setempat, sedangkan pohon pohon besar yang menaunginya disebut gebang. Dari perpaduan keduanya lahirlah nama Kedunggebang.
Konon, kawasan ini pertama kali dibuka oleh tokoh tokoh dari Mataram yang merantau hingga Semenanjung Sembulungan di ujung timur Pulau Jawa. Mereka mencari tempat baru untuk membangun kehidupan yang lebih aman dan tenteram. Saat tiba di daerah yang kini menjadi Kedunggebang, mereka menemukan telaga yang jernih di tengah pepohonan gebang. Air telaga itu menjadi berkah bagi para pembuka lahan karena menyediakan minum, mengairi tanaman, serta menjadi titik awal tempat permukiman tumbuh.
Pohon gebang bukan hanya hiasan alam. Sejak zaman dahulu pohon ini menjadi sumber pangan yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Batangnya yang kokoh menyimpan pati tepung yang dapat diolah menjadi makanan pokok. Pati gebang menjadi pengganti sumber karbohidrat ketika padi sulit diperoleh. Selain itu umbut gebang dapat dimakan sebagai sayuran. Rasa umbutnya segar dan renyah, sering diolah menjadi masakan rumahan. Dari bunga gebang menetes nira manis yang dapat diminum langsung maupun difermentasi menjadi minuman tradisional.
Para leluhur Kedunggebang memanfaatkan pohon ini dengan penuh kearifan. Mereka hanya mengambil apa yang diperlukan, memastikan pohon gebang tetap tumbuh lestari. Setiap kali menebang satu pohon, mereka menanam bibit baru agar generasi selanjutnya tidak kehilangan sumber pangan cadangan. Dengan begitu gebang bukan sekadar tanaman, tetapi salah satu penopang kehidupan yang paling awal di wilayah itu.
Abdul Rahman, Kepala Desa Kedunggebang masa kini, menjelaskan bahwa sejarah desa memiliki hubungan erat dengan telaga dan pohon gebang itu sendiri. Vegetasi yang unik dan keberadaan air tawar yang selalu tersedia menjadi alasan para pembuka lahan memilih tempat tersebut sebagai hunian. Dari situlah desa berkembang dan masyarakat mulai menanam tanaman pangan lain seperti padi, singkong, dan keladi. Namun ingatan tentang gebang tidak pernah hilang dari cerita para orang tua.
Lokasi Kedunggebang yang berada di Semenanjung Sembulungan juga membuatnya memiliki nilai sejarah tersendiri. Kawasan ini dulunya menjadi bagian penting dari cerita perjalanan masyarakat Blambangan, termasuk jalur perdagangan, perburuan, dan pengelolaan hasil hutan. Laut yang berada tidak jauh dari desa memberikan ikan melimpah, sementara daratan memberi sumber pangan dari tanaman dan pohon seperti gebang.
Sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur pemerintah desa kini mulai mendokumentasikan sejarah Kedunggebang. Tulisan tulisan tentang asal usul desa dikumpulkan agar generasi muda tidak kehilangan jejak cerita tanah kelahiran mereka. Bahkan kantor desa kini dibangun dengan gaya bata merah khas Majapahit sebagai simbol penghormatan pada peradaban besar yang pernah berpengaruh di tanah Jawa.
Langkah ini bukan hanya tindakan pelestarian. Ini adalah cara untuk membangkitkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap akar budaya mereka sendiri. Kedunggebang bukan sekadar tempat tinggal tetapi kumpulan cerita panjang tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam, mengambil manfaat dari pohon gebang, serta menjaga keseimbangan agar alam tetap memberikan kehidupan.
Dari kisah Desa Kedunggebang kita belajar bahwa pangan tidak selalu berasal dari tanaman yang dibudidayakan. Kadang kala ia tumbuh dari pohon liar yang dipelihara dengan kasih sayang. Pati gebang yang menjadi sumber energi, umbut yang menjadi makanan, dan nira yang menjadi minuman adalah bukti bahwa alam menyediakan banyak hal bagi manusia asalkan manusia merawatnya.
Nilai kearifan lokal mengajarkan bahwa kesejahteraan lahir dari hubungan yang selaras dengan hutan, air, dan tanah. Masyarakat Kedunggebang menunjukkan kepada kita bahwa pelestarian budaya dan kelestarian alam berjalan beriringan. Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa asal usul sebuah desa adalah harta yang harus dijaga dan bahwa pangan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari upaya panjang nenek moyang yang hidup menyatu dengan alam.