Dusun Lugjag

URL Cerital Digital: https://desapengatigan.blogspot.com/2016/05/profil-desa.html?m=1

Di sebuah sudut Desa Pengatigan terdapat sebuah dusun yang menyimpan kisah unik dan kuat melekat dalam ingatan masyarakatnya. Dusun itu bernama Lugjag, sebuah nama yang lahir dari cerita lama tentang pohon besar, hujan yang datang tiba tiba, dan kehidupan masyarakat yang kuat memegang adat serta ajaran agama.

Dahulu kala penduduk Dusun Lugjag dikenal memiliki keyakinan Islam yang kuat. Banyak ulama dan kyai yang menetap di sana. Mereka menjadi guru bagi warga setempat, mengajarkan nilai nilai keimanan dengan penuh ketekunan. Dusun ini pun berkembang menjadi pusat pengajaran agama, tempat orang datang untuk belajar tentang hidup yang bersandar pada moral dan spiritualitas.

Namun keistimewaan Lugjag bukan hanya terletak pada para tokoh agamanya. Di tengah dusun ini dahulu berdiri sebuah pohon raksasa yang sangat tua. Masyarakat menyebutnya pohon luh. Pohon itu menjadi tempat berlindung penduduk ketika hujan turun, ketika matahari terik, bahkan ketika mereka butuh tempat merenung sendirian. Akarnya mencengkeram tanah dengan kuat, batangnya menjulang, dan daunnya lebat bagaikan payung alam yang tidak pernah roboh.

Pohon luh memiliki nilai guna yang penting bagi masyarakat masa itu. Kayunya yang kokoh sering digunakan sebagai bahan konstruksi rumah dan lumbung. Daun dan buahnya bermanfaat dalam kehidupan sehari hari meskipun bukan makanan pokok. Buahnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga tertentu dan menjadi pakan tambahan bagi beberapa hewan peliharaan. Keberadaan pohon ini sangat dihormati karena memberi banyak manfaat tanpa diminta.

Konon pohon luh memiliki keanehan yang membuatnya semakin terkenal. Setiap kali penduduk membersihkan area di bawah pohon, tidak lama kemudian tempat itu kembali dipenuhi daun gugur seolah pohon tersebut menolak untuk benar benar bersih. Warga menyebut kejadian itu sebagai gejek. Karena keunikan ini masyarakat meyakini bahwa pohon luh adalah bagian dari kehidupan dusun, bukan sekadar tumbuhan biasa.

Kepercayaan lain yang berkembang adalah larangan memainkan kesenian tertentu di Dusun Lugjag. Alat alat seperti gong, kendang, atau kempul tidak boleh digunakan dalam acara warga. Menurut cerita para tetua, setiap kali ada yang melanggar larangan ini hujan deras turun mendadak dan membuat seluruh dusun becek. Kejadian itulah yang akhirnya menjadi awal mula nama Lugjag. Kata itu dipercaya berasal dari gambaran kondisi tanah yang berlumpur dan licin setelah diguyur hujan tidak terduga.

Meski terdengar seperti dongeng, kisah ini menyampaikan bagaimana masyarakat Lugjag hidup dengan penuh penghormatan terhadap alam, adat, dan ajaran agama. Pohon luh menjadi simbol keteduhan, perlindungan, sekaligus pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang harus dihormati. Di bawah naungan pohon itulah warga berlindung dan di sekitar akar pohon itulah cerita dusun dimulai.

Pohon luh yang memberi manfaat ekologis dan kegunaan sehari hari menunjukkan bahwa pangan dan kehidupan tidak selalu datang dari tanaman yang dimakan manusia. Walau bukan sumber makanan langsung bagi masyarakat, pohon luh menyediakan bahan pembangunan, menaungi hewan yang kemudian menjadi bagian dari siklus pangan, dan memberikan buah serta daun yang bermanfaat. Tanaman ini membantu menjaga keseimbangan ekosistem, memastikan tanah tetap kokoh dan lingkungan tetap hidup.

Dari kisah Dusun Lugjag kita belajar bahwa masyarakat Jawa Timur memiliki cara tersendiri dalam menjaga hubungan antara manusia, alam, dan keyakinan spiritual. Mereka menghargai pohon sebagai bagian dari kehidupan. Menghormati larangan adat bukan hanya bentuk ketakutan tetapi cara untuk menjaga harmoni kehidupan bersama. Pohon luh mengajarkan bahwa kebermanfaatan alam kadang datang dari bentuk yang tidak kita duga.

Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa merawat alam adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Pohon, air, tanah, dan angin memiliki peran masing masing dan bekerja dalam satu kesatuan. Masyarakat Lugjag yang hidup dalam keseimbangan dengan keyakinan dan lingkungan memberi pelajaran bahwa kearifan lokal selalu menjadi jalan untuk menjaga keberlanjutan. Dengan menghargai alam kita tidak hanya melestarikan kisah masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan bagi generasi yang akan datang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.