Desa Kalibendo

URL Cerital Digital: https://radarbanyuwangi.jawapos.com/liputan-khusus/753656451/nama-kalibendo-berasal-dari-pohon-bendo-yang-berderet-di-tepian-kali-kampunganyar-banyuwangi

Di kaki pegunungan Banyuwangi, ketika udara masih sejuk dan sungai sungai mengalir jernih dari mata air yang tersembunyi, terdapat sebuah tempat yang sejak dahulu sangat dicintai warga. Tempat itu bernama Kalibendo, sebuah wilayah di Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah. Namanya berasal dari barisan pohon bendo besar yang tumbuh rapat di sepanjang tepian sungai. Pohon pohon itu berdiri kokoh seakan menjaga aliran air yang membentang di bawahnya.

Pada masa lampau ketika masyarakat masih hidup sangat dekat dengan alam pohon bendo memiliki peranan penting. Pohon ini dikenal sebagai tanaman yang tangguh. Batangnya besar dan kuat, akarnya menghujam dalam, serta daunnya lebar menaungi tanah sekitar. Namun yang membuatnya lebih berarti adalah manfaatnya bagi kesehatan. Bagian bagian tertentu dari pohon bendo dapat digunakan sebagai obat tradisional. Rebusan kulit kayu bendo dipercaya membantu meredakan beberapa gangguan tubuh, sementara bijinya dimanfaatkan secara terbatas dalam perawatan alami. Bagi masyarakat yang tinggal di dekat sungai, bendo menjadi bagian dari pengetahuan turun temurun dalam menjaga kesehatan keluarga.

Dulu di sepanjang aliran sungai Kalibendo, pohon pohon bendo tumbuh berjejer rapi seolah membentuk lorong alami. Suara gemericik air berpadu dengan desau dedaunan yang tertiup angin, menciptakan suasana tenang yang membuat siapa saja betah berlama lama di sana. Tidak heran jika wilayah ini sejak tahun 1980 an sudah menjadi tujuan warga untuk ngadem atau menenangkan diri dari kesibukan hidup.

Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menjelaskan bahwa Kalibendo bukan hanya indah dipandang mata tetapi juga memiliki sejarah panjang sebagai tempat yang memberi kebahagiaan. Masyarakat datang untuk menikmati kesejukan alam, duduk di antara pepohonan bendo, atau bermain air di sungai yang jernih. Aliran sungai Kalibendo tidak hanya menjadi pelipur duka tetapi juga menjadi sumber kehidupan. Airnya mengairi kebun warga dan memberi kesuburan pada tanah yang menghasilkan aneka tanaman pangan.

Keindahan Kalibendo membuat kawasan ini berkembang menjadi tujuan wisata. Sepanjang alirannya terdapat empat potensi wisata yang sangat digemari. Ada wisata Kebun Kalibendo yang menampilkan pemandangan hijau, wisata Kalikedung dengan aliran air yang menembus bebatuan, wisata Perosodan yang menyuguhkan keseruan bermain air, serta kompleks Air Terjun Kembar Jagir yang mempesona dengan kecantikannya. Tiap titik memiliki cerita dan pengalaman yang berbeda, namun semuanya berakar pada sungai yang sama dan pohon bendo yang menjadi penandanya.

Meskipun menjadi tempat yang banyak dikunjungi, Kalibendo masih terhubung erat dengan kearifan alam. Masyarakat sangat sadar bahwa sungai yang bersih dan pohon bendo yang lestari adalah anugerah. Karena itu banyak warga yang menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan ini. Namun seperti wilayah lain yang berada dekat sungai, musim hujan membawa tantangan. Air yang meluap kadang menyebabkan banjir kecil yang sempat merusak beberapa lokasi. Pemerintah desa pun menekankan pentingnya kewaspadaan agar keindahan Kalibendo dapat dinikmati tanpa risiko.

Kisah Kalibendo mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam tidak sekadar memandang tanaman sebagai sumber pangan langsung. Pohon bendo adalah contohnya. Meski tidak menghasilkan buah untuk dimakan setiap hari, bendo memberikan manfaat penting melalui nilai obat tradisional yang membantu menjaga kesehatan. Kehadiran pohon ini memperkuat ekosistem di sepanjang sungai dan memberikan keteduhan bagi manusia maupun satwa. Dengan akar yang kuat pohon bendo menjaga tanah dari erosi dan membantu menjaga kualitas air yang menjadi sumber kehidupan.

Dari cerita ini dapat dipetik pesan bahwa alam memiliki cara tersendiri untuk memberi manfaat pada manusia. Tidak semua tanaman harus dimakan untuk dianggap sebagai bagian dari sumber pangan. Ada yang membantu secara tidak langsung dengan menjaga lingkungan, menyediakan obat, atau mendukung keberlanjutan air dan tanah. Kalibendo dengan pohon bendo dan sungainya menunjukkan bahwa pangan dan kesehatan manusia berakar dari alam yang seimbang.

Semoga kisah Kalibendo menjadi pengingat bahwa keindahan alam adalah warisan yang harus dijaga. Dengan mencintai sungai, merawat pohon bendo, dan menjaga tanah tetap lestari, kita meneruskan kearifan lokal yang telah memelihara masyarakat Banyuwangi sejak lama. Alam memberi kehidupan kepada manusia, dan manusia berkewajiban menjaga alam dengan sepenuh hati.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.