Asal Usul Dusun Ro’ Soro’

URL Cerital Digital: https://kebundadaptimur.datadesa.com/2017/08/asal-usul-desa-kebun-dadap-timur.html

Di wilayah timur Madura, terdapat sebuah dusun kecil yang namanya mengandung misteri masa lalu. Dusun itu dikenal sebagai Ro Soro, sebuah nama yang memiliki lebih dari satu kisah asal usul. Dari cerita turun temurun yang dijaga dengan penuh hormat oleh warga setempat, nama Ro Soro tidak hanya merujuk pada lokasi, tetapi juga mencerminkan hubungan manusia dengan tanah, air, serta nilai nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat.

Kisah pertama tentang nama Ro Soro berawal dari kondisi alam dusun tersebut. Menurut para tetua, Ro Soro berada di tanah yang paling mudah mengeluarkan air. Cukup dengan menggali tanah beberapa meter, air jernih akan merembes keluar. Warga Madura menyebut kegiatan menggali tanah sebagai soro atau ngangrok. Kemudahan mendapatkan air inilah yang menjadikan wilayah itu istimewa, terlebih pada masa ketika sumur menjadi nyawa desa dan penentu kesejahteraan masyarakat.

Di tengah tanah yang subur dan kaya air itulah warga mulai menanam berbagai tanaman pangan. Singkong, keladi, dan kacang kacangan tumbuh subur di ladang ladang kecil yang dikelola secara turun temurun. Sumber air yang mudah ditemukan membuat masyarakat dapat menanam kapan saja. Kesuburan ini kemudian melahirkan tradisi memasak hidangan khas seperti singkong rebus yang disajikan bersama parutan kelapa muda atau olahan keladi yang direbus dan dicelupkan ke sambal kelapa pedas. Hidangan sederhana ini dipercaya menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan tanah yang memberi kehidupan.

Namun kisah lain tentang nama Ro Soro datang dari sudut pandang yang berbeda. Menurut riwayat kedua, Ro Soro berasal dari kata surau yang dalam bahasa Indonesia berarti langgar atau musala kecil. Dahulu, di antara empat dusun yang ada, hanya Ro Soro yang memiliki surau tempat warga mengaji, berdoa, dan melatih anak anak mengenal huruf Arab. Surau itu menjadi pusat kegiatan spiritual sekaligus tempat musyawarah. Di sinilah masyarakat belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang kesuburan tanah, tetapi juga kesuburan hati.

Warga percaya bahwa keberadaan surau itulah yang membuat tanah Ro Soro memiliki berkah tersendiri. Banyak yang mengatakan bahwa tanaman pangan di dusun itu lebih subur karena dirawat dengan doa dan rasa syukur. Setiap panen singkong atau hasil kebun lainnya, warga selalu membagikannya kepada tetangga sebagai bentuk syukur dan kebersamaan. Makanan hasil tanah Ro Soro lantas bukan hanya menjadi santapan, tetapi juga menjadi tanda ikatan sosial yang kuat.

Kedua riwayat tersebut hidup berdampingan, masing masing menggambarkan karakter dusun dengan cara yang berbeda tetapi saling melengkapi. Riwayat tentang tanah yang mudah digali menegaskan pentingnya air sebagai sumber pangan dan kehidupan. Sementara riwayat tentang surau menunjukkan bahwa tempat spiritual juga dapat menjadi sumber kemakmuran batin dan kebajikan sosial.

Melalui kisah Ro Soro, kita diingatkan bahwa pangan tidak hanya tumbuh dari tanah yang subur, tetapi juga dari hati manusia yang hidup dalam rasa syukur dan kebersamaan. Hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya tampak jelas. Air yang mudah ditemukan mengajarkan warga untuk merawat alam, sementara surau mengajarkan mereka untuk merawat batin. Nilai ini menjadi warisan berharga yang terus hidup, dan menjadi pesan moral bagi setiap generasi agar selalu menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara alam dan manusia, antara syukur dan kerja keras.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.