Di ujung timur Pulau Madura berdiri sebuah kecamatan yang namanya sering menimbulkan tanya, bahkan tak jarang menjadi bahan candaan. Kecamatan itu bernama Batang Batang, wilayah pesisir yang terkenal dengan Pantai Lombang yang dipagari oleh pohon cemara udang. Meskipun terpandang sebagai salah satu kecamatan dengan desa terbanyak, nama Batang Batang menyimpan kisah panjang yang berakar dari sejarah dan perjalanan seorang pendekar legendaris dari Sumenep.
Cerita ini dimulai pada masa ketika Joko Tole, sang pendekar yang dikenal dengan berbagai nama, termasuk Ario Secodiningrat, berada dalam keadaan sakit parah. Tubuhnya melemah hingga ia tidak mampu lagi berjalan. Para prajuritnya menanggung beban besar saat diperintahkan untuk mengantarnya kembali ke arah keraton Sumenep. Joko Tole memberikan pesan terakhir. Bila ajal menjemputnya di tengah perjalanan, makamkan ia ketika kayu tandu yang mereka gunakan telah patah.
Dengan penuh hormat, para prajurit mengangkat tandu berisi sang pendekar sambil menelusuri jalan panjang dari wilayah timur Sumenep. Namun, perjalanan itu ternyata menjadi perjalanan terakhir bagi Joko Tole. Ia meninggalkan dunia sebelum sempat mencapai keraton. Para prajuritnya diliputi kebimbangan antara mematuhi pesan terakhir sang pendekar atau mengikuti naluri untuk segera memakamkannya di tempat ia menghembuskan napas terakhir.
Karena rasa hormat yang begitu besar, mereka melanjutkan perjalanan hingga kayu tandu itu patah. Di tempat pekolan itu putus, mereka berhenti dan menurunkan tubuh Joko Tole. Di situlah jasad sang pendekar dimakamkan.
Wilayah tempat ia dikuburkan kemudian dinamakan bhâbhâtang, yang dalam bahasa Madura berarti bangkai. Namun makna kata ini tidak merujuk pada penghinaan, melainkan sekadar penanda pada masa ketika istilah bangkai dipakai untuk menyebut tubuh manusia atau hewan yang telah meninggal. Seiring berjalannya waktu, istilah itu diperhalus menjadi Batang Batang, dan nama itu bertahan hingga kini.
Di balik kisah kepahlawanan Joko Tole yang menjadi bagian penting dari sejarah daerah tersebut, masyarakat pesisir Batang Batang juga menyimpan hubungan erat dengan pangan khas mereka. Pohon cemara udang yang tumbuh subur di Pantai Lombang tidak hanya menjadi peneduh dan penahan angin, tetapi juga berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Masyarakat setempat memanfaatkan buah cemara udang untuk kebutuhan rempah, pengobatan sederhana, serta pengawet alami dalam pengolahan ikan laut yang menjadi sumber pangan utama mereka.
Pola hidup pesisir itu berkelindan dengan sejarah Batang Batang. Para leluhur yang menggantungkan hidup pada laut memahami bahwa pohon pohon cemara udang dan tanaman pantai lainnya memiliki peran penting. Mereka melindungi pasir dari longsor, menahan angin laut yang kencang, dan menjaga kualitas udara serta lingkungan tempat mereka mencari nafkah. Karenanya, pohon cemara udang bukan sekadar penghias pantai, melainkan bagian dari rantai pangan dan ekosistem yang menentukan kehidupan mereka.
Hingga kini masyarakat Batang Batang tetap memanfaatkan hasil laut sebagai pangan pokok. Ikan asin, teri, dan berbagai produk olahan laut menjadi pangan khas yang menghidupi keluarga keluarga nelayan. Dalam setiap proses pengolahan, mereka selalu menjaga etika leluhur, memanfaatkan alam dengan secukupnya, serta memberikan ruang bagi laut dan hutan pantai untuk pulih kembali.
Dari kisah Joko Tole dan sejarah nama Batang Batang, kita belajar bahwa setiap tempat memiliki akar cerita yang tidak dapat dipisahkan dari alam dan kehidupan masyarakatnya. Nama yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang ternyata menyimpan nilai keteladanan, keberanian, dan penghormatan terhadap wasiat seorang tokoh besar. Sementara itu, hubungan masyarakat Batang Batang dengan pangan pesisir mengingatkan kita bahwa manusia dan alam saling membutuhkan.
Melalui pangan lokal yang lahir dari kerja keras dan kearifan lingkungan, masyarakat Batang Batang menjaga warisan nenek moyang. Mereka menunjukkan bahwa penghormatan tidak hanya diberikan kepada tokoh sejarah, tetapi juga kepada alam yang terus memberi kehidupan. Inilah pesan moral yang dapat kita petik. Tradisi, sejarah, dan pangan adalah tiga unsur yang berjalan beriringan dan mengajarkan kita untuk menghargai kehidupan dengan penuh kesadaran serta rasa syukur.