Pada masa ketika kerajaan kecil dan pusat dakwah Islam mulai tumbuh di berbagai penjuru Jawa, hiduplah seorang tokoh dari trah Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran. Dari salah satu permaisuri beliau lahir seorang putra bernama Buyut Ronggodjampi. Tokoh inilah yang kelak menetap di tanah timur, di sebuah wilayah yang masih hijau dan sunyi pada masa itu. Kehadirannya begitu dihormati masyarakat sehingga wilayah tempat tinggalnya kemudian dinamai Rogojampi, sebuah nama yang lahir dari perubahan dialek dan pelafalan penduduk setempat terhadap nama Ronggodjampi.
Buyut Ronggodjampi dikenal sebagai sosok bijak yang membawa ajaran agama, adat, dan kesederhanaan kepada masyarakat. Putranya, Buyut Ronggodjati, masih melanjutkan jejaknya di Banyuwangi. Dari keluarga inilah nilai nilai lama dan adat istiadat Desa Rogojampi terwariskan kepada generasi berikutnya. Meskipun sebagian besar adat leluhur perlahan memudar seiring perkembangan zaman, beberapa tradisi masih bertahan terutama tradisi selamatan, doa bersama, dan suguhan suguhan khas yang menjadi bagian penting dalam setiap hajatan.
Pada masa lalu warga Dusun Krajan ketika mengadakan hajatan selalu mempersiapkan tumpeng lengkap dengan lauk kepala kambing dan minuman tradisional bernama dawet. Dawet yang disajikan bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia adalah simbol kehangatan, doa, dan rasa syukur. Terbuat dari campuran tepung beras yang dibentuk menjadi butiran hijau atau putih, dawet disajikan bersama kuah santan dan siraman gula Jawa cair yang manis. Gula Jawa yang menjadi bahan utama memberikan energi, menghangatkan tubuh, dan sudah lama menjadi sumber pangan sederhana namun bermanfaat bagi masyarakat pedesaan.
Dawet memiliki peran penting di Desa Rogojampi. Minuman ini disajikan dalam setiap acara besar termasuk selamatan, pernikahan, syukuran, hingga acara pembersihan desa. Manisnya gula Jawa melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga dan keluarga yang mengadakan hajatan selalu dipenuhi keberkahan. Sementara teksturnya yang lembut melambangkan harapan agar hubungan keluarga menjadi rukun tanpa pertengkaran.
Selain itu masyarakat Dusun Lugonto memiliki tradisi berbeda. Setiap tujuh hari dalam bulan Syawal mereka mengadakan Bersih Dusun dengan meramaikan masjid melalui pembacaan shalawat. Ritual ini menjadi cara mereka menjaga harmoni sosial sekaligus melestarikan budaya yang diwariskan Buyut Ronggodjampi. Meskipun banyak adat istiadat lama yang kini tidak lagi dijalankan, nilai nilai inti tentang kebersamaan dan rasa syukur masih hidup dalam upacara upacara tersebut.
Tradisi masyarakat Desa Rogojampi juga mencakup upacara kehidupan seperti Tingkeban untuk ibu hamil pada usia tiga, lima, tujuh, hingga sembilan bulan. Ada pula Walimatul Janin yang dilakukan hingga masa kelahiran untuk memohon keselamatan ibu dan bayi. Upacara kemanten anak terakhir atau Perang Bangkat menjadi salah satu adat paling menarik yang masih dijalankan sampai hari ini sebagai simbol pelepasan dan doa bagi putra putri terakhir dalam sebuah keluarga.
Meskipun banyak tradisi yang perlahan hilang tertelan arus modernisasi, dawet sebagai suguhan adat tidak pernah benar benar menghilang. Kehadirannya dalam setiap hajatan menjadi bukti bahwa pangan tradisional tidak hanya memiliki fungsi biologis, tetapi juga fungsi sosial dan spiritual. Dawet menghubungkan masyarakat dengan warisan leluhur, menghadirkan rasa manis yang menyejukkan, dan memperkuat hubungan sosial di antara warga.
Kisah Desa Rogojampi menegaskan bahwa makanan dan minuman tradisional memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur. Dawet bukan hanya minuman dari gula Jawa tetapi juga wujud kearifan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi simbol keramahan tuan rumah, simbol doa agar kehidupan manis, dan simbol harmoni. Dari sini kita belajar bahwa pangan tidak hanya mengisi perut tetapi juga mengisi jiwa.
Nilai yang dapat dipetik dari sejarah Rogojampi adalah pentingnya menjaga hubungan dengan alam dan tradisi. Gula Jawa yang menjadi jiwa dawet berasal dari pohon aren yang dirawat dengan kesabaran. Tanaman yang dibiarkan tumbuh menghasilkan nira manis yang kemudian diolah menjadi gula. Dari proses panjang ini kita diajarkan untuk menghargai apa yang alam berikan. Semoga kisah ini mengingatkan bahwa pelestarian budaya dan kelestarian alam berjalan berdampingan. Tradisi akan tetap hidup selama manusia merawat akar akar yang menumbuhkannya.