Mata Air Patellessan Kecer

URL Cerital Digital: https://mamira.id/legenda-mata-air-patellessan-peninggalan-pottre-koneng-yang-bisa-bikin-awet-muda/

Di Pulau Madura, penamaan tempat tidak pernah berdiri tanpa cerita. Hampir setiap desa, kampung, maupun mata air menyimpan hubungan dengan tokoh masa lampau yang jejaknya tertinggal dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satunya adalah Sumber Patellessan di Desa Kecer, Kecamatan Dasuk. Tidak jauh dari Sumber Banasare, mata air ini dipercaya memiliki ikatan kuat dengan sosok yang sangat dikenal dalam sejarah dan folklore Sumenep, yaitu Pottre Koneng.

Menurut kisah yang dituturkan turun temurun, Pottre Koneng dahulu menggunakan air dari Sumber Patellessan untuk mengambil wudhu. Faruq Dardiri, salah satu tokoh muda desa, menyebut bahwa cerita itu sudah diwariskan para sepuh sejak dulu. Bagi masyarakat Kecer, kisah itu bukan sekadar dongeng, tetapi bagian dari identitas yang mengikat tempat dan warganya dengan tokoh mulia yang pernah hidup pada abad empat belas.

Pottre Koneng bukan sosok sembarangan. Ia adalah cucu dari Secadiningrat I, raja Sumenep yang dikenal dengan berbagai gelar. Ayahnya adalah Pangeran Banasare, penguasa yang juga tercatat dalam sejarah sebagai Gajah Pramono atau Secadiningrat II. Selain garis keturunan yang mulia, Pottre Koneng juga dikenal sebagai ibu dari Jokotole, tokoh besar yang kisahnya menjadi bagian dari legenda Madura.

Nama Patellessan sendiri memiliki makna yang sederhana namun dekat dengan keseharian masyarakat. Kata itu berasal dari telles, yaitu kain penutup yang biasa digunakan penduduk desa ketika mandi. Dahulu, para warga menggantungkan atau membilas kain tersebut di dekat mata air, sehingga lama kelamaan nama itu melekat menjadi identitas sumber air sekaligus kampung di sekitarnya.

Masyarakat percaya bahwa air Patellessan menyimpan khasiat khusus. Beberapa warga meyakini air itu dapat menjaga kesehatan kulit dan membuat seseorang tampak awet muda. Bagi masyarakat, keyakinan semacam itu bukan sekadar mitos, melainkan cara mereka mengekspresikan penghormatan kepada sumber air yang selama ratusan tahun memberi kehidupan.

Ada keunikan yang membuat Patellessan semakin dihormati. Dalam kondisi apa pun, mata air itu tidak pernah kering. Bahkan saat kemarau panjang merenggut kelembapan tanah dan memunculkan retakan di sawah, air Patellessan tetap mengalir lembut. Tidak bertambah dan tidak berkurang, seperti menjaga ritmenya sendiri yang tidak dipengaruhi perubahan musim.

Air dari Patellessan bukan hanya dipakai untuk keperluan sehari hari. Sumber ini menjadi jantung bagi ketahanan pangan masyarakat Desa Kecer. Airnya mengaliri sawah tempat warga menanam padi dan palawija, menghasilkan bahan pangan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan bantuan air dari sumber ini, tanah tetap subur, panen tetap berlangsung, dan kehidupan desa terus berjalan tanpa putus.

Legenda tentang Patellessan mengajarkan bahwa sebuah sumber air tidak hanya memuaskan dahaga fisik, tetapi juga menyimpan nilai yang jauh lebih dalam. Kisah Pottre Koneng, keyakinan masyarakat terhadap khasiat air, serta fungsi mata air sebagai penopang pangan menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam dibangun dari penghormatan dan rasa syukur.

Melalui cerita ini, pembaca dapat melihat bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur bukan hanya melalui kata kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Mereka merawat mata air, menghargai hasil bumi, dan memahami bahwa setiap tetes air adalah bagian dari rezeki yang harus dijaga. Dari Patellessan, kita belajar bahwa kearifan lokal tidak pernah lekang. Ia tetap hidup dalam cara masyarakat menjaga alam, memanfaatkan sumber kehidupan dengan bijaksana, dan meyakini bahwa kesejahteraan selalu lahir dari hubungan yang selaras antara manusia dan bumi tempatnya berpijak.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.