
Pada masa yang sangat lampau wilayah yang kini dikenal sebagai Jember merupakan hamparan hutan lebat yang dipenuhi pohon pohon raksasa. Pohonnya begitu besar hingga orang dewasa tidak mampu merangkul batangnya hanya dengan dua lengan. Untuk mengelilingi satu batang pohon saja dibutuhkan beberapa orang yang berdiri melingkar sambil saling menggenggam tangan. Hutan yang rapat itu menaungi tanah basah yang lembek, penuh rawa dan genangan air yang terbentuk dari aliran sungai yang belum teratur. Jika ada sedikit tanah datar, tanah itu pun becek dan sulit dilalui.
Karena keadaan tanah yang berlumpur sepanjang tahun, masyarakat pada masa itu menyebut wilayah tersebut sebagai Jembrek. Kata itu menggambarkan kondisi alam yang becek, basah, dan selalu dipenuhi air. Ketika hujan turun, terutama hujan yang deras, wilayah ini berubah semakin kacau. Air dari pegunungan Hyang dan aliran yang berasal dari daerah sekitar Gunung Raung mengalir turun ke dataran rendah. Sungai sungai yang melintas di wilayah itu mudah meluap, mengubah kawasan hutan menjadi daratan yang tenggelam dalam lumpur.
Warga yang hidup dekat hutan memahami satu hal penting mengenai hubungan antara pohon besar dan sumber air. Mereka tahu bahwa keberadaan pohon yang menaungi tanah membuat air tersimpan di dalam tanah, menciptakan sumber air yang dapat dimanfaatkan. Tempat yang banyak pohon biasanya menyimpan mata air kecil, rembesan air yang dapat digunakan untuk minum atau mengairi tanaman. Pengetahuan lokal ini menjadi pedoman mereka untuk bertahan hidup di wilayah yang lembap dan sulit ditebak. Mereka mencari sumber air dengan mengikuti tanda tanda alam, terutama di area tempat tumbuhnya pohon pohon besar yang akarnya dalam. Di situlah mereka biasanya menemukan air yang bersih dan dapat digunakan.
Seiring waktu berlalu pengucapan nama Jembrek berubah perlahan menjadi Jember. Perubahan ini terjadi secara alami karena kebiasaan masyarakat menyederhanakan bunyi ketika menyebut suatu tempat. Nama baru itu terus digunakan hingga akhirnya menjadi identitas wilayah yang kita kenal sekarang.
Penuturan lama mengenai kondisi Jember juga terdokumentasi dalam sebuah tulisan hasil wawancara seorang jurnalis Suara Soerabaia bernama Tiong Gwan pada sekitar tahun 1920. Ia menggambarkan kondisi jalan di Jember yang mudah berubah menjadi lautan lumpur bahkan saat hujan turun sedikit saja. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa karakter tanah becek telah melekat sejak dahulu dan menjadi bagian dari sejarah wilayah itu.
Kisah mengenai nama Jember bukan sekadar penjelasan etimologi. Cerita ini menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu memahami hubungan antara pohon dan air. Mereka menyadari bahwa wilayah dengan pohon besar memiliki potensi sumber air yang penting untuk kehidupan. Melalui pengetahuan lokal itu mereka belajar membaca alam, menentukan tempat tinggal, dan mengatur cara memanfaatkan air agar tidak terjerumus dalam bencana banjir. Kisah ini mengingatkan bahwa pohon bukan hanya bagian dari lanskap, tetapi penjaga air dan penyangga kehidupan. Melestarikan pohon berarti menjaga keseimbangan alam, serta memastikan keberlangsungan air bagi generasi selanjutnya.