Desa Arjasa

URL Cerital Digital: https://ppid-desa.jemberkab.go.id/desa/arjasa

Di kaki Pegunungan Argopuro, terdapat sebuah desa tua yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban manusia di wilayah Jember. Desa Arjasa, yang kini dikenal sebagai desa wisata adat, menyimpan jejak sejarah dari masa megalitikum hingga kemerdekaan. Banyaknya peninggalan budaya yang ditemukan di desa ini membuktikan bahwa Arjasa telah dihuni sejak ribuan tahun lalu. Batu kenong, batu dakon, menhir, kubur batu, hingga dolmen tersebar di empat dusun. Semua peninggalan itu menunjukkan bahwa masyarakat Arjasa telah mengenal ritual, kesenian, dan sistem sosial sejak masa lampau.

Ketika memasuki era klasik, desa ini menjadi pusat aktivitas budaya dengan adanya bangunan kedaton yang kini dikenal sebagai Kedaton Panjilaras. Menurut penelitian, reruntuhan bangunan berukuran sekitar enam puluh kali empat puluh meter itu diperkirakan berasal dari abad ke sebelas. Cerita yang diwariskan secara turun temurun menyebut bahwa kedaton tersebut menjadi tempat penting bagi tokoh tokoh kerajaan pada masa itu. Bahkan berdasarkan catatan dalam Kitab Negarakertagama, Prabu Hayam Wuruk disebut pernah melintasi desa ini pada tahun 1350 ketika desa yang sama masih bernama Silabango. Nama Silabango kemudian diabadikan menjadi nama motif batik khas Arjasa yang menggambarkan perpaduan peninggalan megalitik dan kesenian tradisional.

Selain kaya peninggalan klasik, Arjasa juga dikenal sebagai desa pasraman. Banyak resi dan tokoh spiritual melakukan ritual di situs situs tua, termasuk di Situs Calok dan Sendang Tirta Amertha Rajasa. Ketika Islam masuk ke wilayah Argopuro, jejaknya membekas dalam bentuk makam makam kuno yang diperkirakan berasal dari abad ketujuh belas. Makam makam tersebut menjadi bukti bahwa percampuran budaya berlangsung dengan damai dan saling mengisi.

Di masa kolonial, Arjasa menjadi bagian dari Karesidenan Besuki. Kepala desa pertama, Pak Seha, diangkat pada tahun 1920. Bangunan bangunan kolonial seperti Stasiun Arjoso masih dapat ditemukan hingga sekarang. Semua peninggalan ini menunjukkan bagaimana Arjasa terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Namun ada satu tradisi yang sangat istimewa dan masih dijalankan hingga saat ini. Tradisi tersebut adalah Idher Bhumi, sebuah ritual syukuran yang dilaksanakan ketika panen padi kedua selesai antara bulan Agustus hingga September. Prosesi ini selalu digelar pada hari Kamis Pahing yang dianggap sebagai hari bumi oleh warga Arjasa. Melalui Idher Bhumi masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Padi sebagai sumber pangan pokok dan simbol kesejahteraan diperlakukan dengan penuh hormat. Masyarakat membawa hasil panen, menyajikan makanan dari beras, dan melakukan ritual keliling desa secara bersama sama.

Selain itu diselenggarakan pula kesenian ta bhuta an, kesenian tradisional khas Arjasa yang menjadi ikon desa. Kesenian ini menampilkan atraksi penuh energi dengan kostum dan gerakan yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk hiburan, tetapi juga menjadi wujud rasa syukur atas rezeki bumi dan bentuk penghormatan kepada leluhur yang menjaga keseimbangan desa.

Ritual panen dan Idher Bhumi memperlihatkan bahwa padi bukan sekadar makanan, tetapi sumber kehidupan yang menyatukan masyarakat. Padi mengajarkan kebersamaan, kesabaran, dan penghormatan terhadap alam. Masyarakat percaya bahwa keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga berkah dari alam yang harus dijaga. Karena itu, ritual Idher Bhumi dilakukan sebagai bentuk kesadaran bahwa kehidupan tidak bisa dilepaskan dari tanah dan air yang memberi kehidupan.

Kisah Desa Arjasa mengingatkan kita bahwa pangan memiliki dimensi budaya yang kuat. Padi bukan hanya bahan makanan, melainkan simbol identitas dan kesejahteraan. Melalui upacara panen dan tradisi Idher Bhumi, masyarakat menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa kesejahteraan lahir dari rasa syukur, penghargaan terhadap tanah, dan kebersamaan. Nilai kearifan lokal ini mengajarkan bahwa alam harus dijaga, dihormati, dan dirawat, karena dari sanalah kehidupan tumbuh dan berkelanjutan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.