Desa Ajung

URL Cerital Digital: https://ppid-desa.jemberkab.go.id/desa/sabrang

Di masa lampau wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Ajung berasal dari dua desa berbeda, yaitu Ajung Rejo dan Ajung Klanceng. Keduanya berdiri pada masa yang berbeda dan dipimpin oleh tokoh tokoh yang dihormati oleh masyarakat. Desa Ajung Rejo berada di bagian timur dan dipimpin oleh Raden Jantoro sejak sekitar tahun 1930. Ia tinggal di Dusun Ajung Kulon dan membawahi tujuh dusun lain yang tersebar di wilayah tersebut. Di sisi lain Desa Ajung Klanceng berdiri pada tahun 1946 di bawah kepemimpinan Pak Madi. Desa ini juga memiliki tujuh dusun, masing masing dengan karakter masyarakat yang menghidupi tanahnya melalui pertanian.

Kedua wilayah itu pada akhirnya digabungkan menjadi satu desa yang utuh, yaitu Desa Ajung. Penggabungan ini membuat wilayah tersebut menjadi lebih luas dan masyarakatnya semakin beragam. Namun ada satu kesamaan yang mengikat seluruh bagian desa ini. Sejak masa penjajahan Belanda penduduk di wilayah Ajung diwajibkan menanam tembakau. Tanaman ini tumbuh subur di tanah Ajung yang hangat dan kaya mineral. Karena itulah wilayah tersebut diberi sebutan Ajung Persil yang menandai kawasan yang berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial dan bertugas menyuplai tembakau.

Tembakau yang ditanam di Ajung memiliki kualitas yang disukai para pedagang. Aromanya kuat dan daunnya tebal sehingga menjadi bahan baku penting untuk pembuatan rokok pada masa itu. Masyarakat Ajung bekerja dari pagi hingga sore. Mereka menanam, merawat, dan memanen daun tembakau yang menjadi sumber utama penghidupan. Setelah dipetik daun daun itu dijemur di halaman rumah, menimbulkan barisan warna coklat keemasan yang berpendar ketika terkena matahari. Proses ini tidak hanya menjadi rutinitas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari budaya yang diwariskan turun temurun.

Melalui tembakau masyarakat Ajung mendapatkan penghasilan dan mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Banyak dari mereka memahami teknik merawat tembakau secara alami. Mereka tahu kapan waktu terbaik menyiram, bagaimana memperhatikan daun yang mulai menguning, serta kapan musim yang paling tepat untuk proses pengeringan. Pengetahuan lokal itu menjadi modal berharga dalam menjaga kualitas tembakau agar tetap bernilai tinggi. Dengan cara itu hubungan antara petani dan tanah Ajung tetap terjaga, karena mereka merawat tanaman dengan kesabaran yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Kisah berdirinya Desa Ajung dan kewajiban menanam tembakau pada masanya mengingatkan kita bahwa pangan tidak selalu berupa bahan makanan. Tembakau yang menjadi hasil utama Ajung adalah komoditas yang memberikan kehidupan bagi masyarakat. Daun tembakau menjadi bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya warga setempat. Di baliknya tersimpan pesan tentang kerja keras, ketekunan, dan kecintaan terhadap tanah yang mereka olah.

Melalui cerita ini kita dapat merenungkan bahwa tanah yang subur adalah anugerah yang harus dijaga. Tembakau yang tumbuh dari tanah itu bukan hanya hasil panen, tetapi jejak sejarah yang membentuk identitas Desa Ajung. Masyarakat yang merawat tanaman dengan penuh perhatian menunjukkan bahwa hubungan manusia dan alam selalu berjalan beriringan. Setiap tanaman yang tumbuh, baik untuk pangan maupun kebutuhan lain, mengajarkan bahwa kesejahteraan berasal dari keselarasan antara manusia, tanah, dan tradisi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.