
Pada masa lalu ketika perjalanan antarwilayah masih ditempuh melalui hutan dan sungai, rombongan Aryo Blater berjalan menuju daerah timur dari wilayah Sabrang. Di hadapan mereka mengalir Sungai Mayang yang lebar dan deras. Para pengawal menyarankan agar mereka berputar menggunakan jalur biasa yang sering dilewati para pedagang. Namun Aryo Blater menolak. Ia memilih menyebrangi sungai secara langsung, meskipun itu berarti harus mengangkat andong yang menjadi kendaraan rombongan. Dengan kerja keras dan bahu membahu mereka berhasil melintasi arus sungai. Saat mencapai seberang, Aryo Blater berkata bahwa jika suatu hari daerah ini menjadi ramai dan berkembang, ia akan menamainya Andongsari, sesuai dengan andong yang mereka angkat ketika menyeberang.
Perjalanan belum selesai. Rombongan kembali berhadapan dengan aliran Sungai Mayang yang lain. Kali ini medan lebih sulit dan tenaga mereka mulai terkuras. Namun dengan tekad kuat mereka kembali berhasil menyebrangi sungai. Sesampainya di tepi seberang, para prajurit yang kelelahan berhenti untuk beristirahat. Mereka mencari apa pun yang dapat dijadikan makanan untuk mengisi tenaga. Salah satu prajurit menemukan ketela rambat atau ubi jalar yang tumbuh liar di sekitar tepi sungai. Dalam bahasa Madura ketela ini disebut sabreng. Dengan peralatan seadanya mereka membakarnya di atas bara kecil, lalu memakannya bersama sama.
Ubi jalar itu menjadi penyelamat bagi mereka. Walaupun sederhana, ketela rambat memberi tenaga baru yang membuat rombongan bisa melanjutkan perjalanan. Aryo Blater melihat bagaimana makanan itu menjadi pemberi energi, menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Ia pun bersaksi kepada para pengawalnya bahwa jika daerah itu kelak berkembang, ia akan menamainya Sabrang, terinspirasi dari sabreng yang memberi mereka kekuatan di tengah perjalanan yang berat.
Cerita ini menggambarkan peran makanan lokal yang sederhana, seperti ketela rambat dan ubi jalar, dalam kehidupan masyarakat. Di masa itu ubi jalar menjadi makanan pokok bagi penduduk sekitar. Mereka mengolahnya dengan cara dibakar, direbus, atau dipanggang di bara api. Ketela rambat tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga mengandung karbohidrat tinggi yang dapat menggantikan nasi. Buah tanah ini telah menjadi pangan penting bagi masyarakat pedesaan Jawa Timur, terutama mereka yang banyak berjalan, bertani, atau bekerja di alam terbuka.
Kisah perjalanan Aryo Blater dan prajuritnya menegaskan bahwa pangan lokal sering kali menjadi penopang utama kekuatan hidup masyarakat. Ubi jalar yang sederhana itu mengajarkan bahwa makanan tidak harus mewah untuk memberi manfaat. Dalam perjalanan panjang itu ketela rambat menjadi simbol ketahanan hidup, kesederhanaan, dan kebersamaan. Makanan yang dibakar bersama di tepi sungai menjadi saksi bahwa masyarakat masa lalu sangat bergantung pada alam dan memanfaatkan apa pun yang tersedia tanpa merusak lingkungannya.
Cerita ini juga mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa di balik setiap nama tempat selalu ada kisah tentang manusia, alam, dan pangan. Sabrang, yang berasal dari kata sabreng, menjadi penanda bahwa sebuah wilayah lahir dari perjalanan, perjuangan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam. Ketela rambat yang menjadi makanan pokok dalam kisah ini menunjukkan bahwa pangan lokal adalah bagian dari identitas masyarakat, mengajarkan kita untuk menghargai apa yang tumbuh dari tanah dan apa yang diberikan alam.
Nilai kearifan lokal yang dapat dipetik adalah bahwa manusia seharusnya hidup sejalan dengan alam. Ketela rambat yang tumbuh liar di tepi sungai memberi pelajaran bahwa bumi menyediakan kebutuhan dasar, tetapi manusia harus mampu menjaganya agar tetap memberi kehidupan. Dalam kesederhanaannya cerita ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati muncul dari kebersamaan, kesabaran, dan penghargaan terhadap pangan yang lahir dari tanah yang kita pijak.