Dusun Ambulu Desa Sabrang

URL Cerital Digital: https://ppid-desa.jemberkab.go.id/desa/sabrang

Pada masa sebelum penjajahan, masyarakat hidup dalam kelompok kelompok yang dipimpin oleh seorang raja atau penguasa wilayah. Kepemimpinan ini ditugaskan langsung oleh kerajaan untuk menjaga ketertiban dan memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Di wilayah yang kini menjadi Desa Sabrang, terdapat dua suku yang hidup berdampingan, yaitu suku Jawa dan Madura. Keduanya membangun kehidupan bersama dengan damai. Mereka bekerja, berdagang, dan merawat alam tanpa memandang perbedaan bahasa serta budaya.

Masyarakat pada waktu itu memenuhi kebutuhan hidup sehari hari dengan berkebun dan mencari ikan di laut. Aktivitas ini menghasilkan bahan pangan yang mereka tukarkan dalam bentuk jual beli. Bagian timur wilayah Sabrang berada di bawah kekuasaan seorang utusan Kerajaan Blambangan bernama Aryo Blater. Di wilayahnya, tanah subur menghasilkan hasil kebun yang melimpah. Di antara tanaman yang tumbuh dengan baik adalah kopi. Kopi dari wilayah timur ini menjadi komoditas yang berharga. Masyarakat menjemur bijinya, mengolahnya secara tradisional, lalu menjualnya kepada penduduk di barat.

Di sisi barat Desa Sabrang, wilayah ini berada dalam kekuasaan Pangeran Puger. Penduduk di bagian barat mengandalkan hasil tangkapan ikan. Mereka membawa ikan ke timur untuk ditukar dengan hasil kebun. Perdagangan ini membuat roda perekonomian berjalan selaras. Para nelayan dan petani selalu saling membutuhkan, sehingga keduanya membangun hubungan erat yang tumbuh dari saling percaya.

Dalam perjalanan perdagangan tersebut terdapat sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Ambulu. Dahulu wilayah ini menjadi lokasi istirahat bagi pedagang dari timur yang membawa kopi ke barat, atau pedagang dari barat yang membawa ikan ke timur. Mereka melewati jalur yang sama, membawa hasil bumi dan hasil laut, sehingga Ambulu menjadi titik pertemuan yang penting. Di tempat inilah kemudian berdiri sebuah kedai kopi sederhana yang dijalankan oleh seorang lelaki dari Puger. Ia selalu menyapa pedagang yang melintas dengan kalimat ambu gelu yang berarti istirahat dulu.

Sapaan itu lama kelamaan menjadi ciri khas tempat ini. Para pedagang yang beristirahat di sana menikmati kopi hangat yang disajikan, minuman yang memberi tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Kopi bukan hanya minuman yang menghangatkan tubuh, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan. Para pedagang sering berbincang mengenai perjalanan, perdagangan, dan kabar dari daerah masing masing sambil menyesap kopi. Tempat yang awalnya hanya titik singgah berubah menjadi pusat pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah.

Suatu hari sekelompok pedagang dari wilayah Blater bercengkerama setelah beristirahat. Di antara mereka ada yang berkata, besok jika tempat ini mengalami kemajuan, aku akan menamainya Ambulu. Ucapan itu disampaikan sebagai harapan bahwa wilayah yang menjadi saksi banyak pertemuan itu kelak berkembang menjadi tempat yang dihuni dan dihargai.

Kisah ini menunjukkan bahwa Dusun Ambulu tumbuh dari interaksi antara masyarakat petani dan nelayan, antara kopi dan ikan, antara kerja keras dan kebersamaan. Kopi yang menjadi hasil andalan wilayah timur telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Biji kopi yang ditanam, dipetik, dijemur, dan kemudian diseduh menjadi minuman memberi energi bagi para pedagang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Melalui cerita asal usul Ambulu, kita dapat melihat bagaimana pangan tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai ikatan sosial. Kopi yang diolah oleh masyarakat pedesaan menjadi simbol persahabatan, persatuan, dan harapan untuk masa depan. Nilai nilai kearifan lokal dalam cerita ini mengajarkan bahwa alam menyediakan sumber daya yang melimpah, tetapi hanya akan berarti jika digunakan dengan kebijaksanaan. Masyarakat yang menghargai alam, memanfaatkan hasilnya dengan penuh rasa syukur, dan saling bekerja sama akan menciptakan kehidupan yang sejahtera dan harmonis.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.