
Pada masa yang sangat lampau, jauh sebelum wilayah Jember dipenuhi sawah dan permukiman, terdapat sebuah padepokan terpencil yang terkenal karena kesaktiannya. Padepokan itu dipimpin oleh seorang guru bijaksana yang memiliki banyak murid. Di antara para murid tersebut terdapat tiga orang yang sangat menonjol, yaitu Blater, Kunto, dan Aji. Mereka telah lama belajar di sana hingga menjadi murid kepercayaan sang guru. Ketiganya dikenal sangat setia, kuat, dan memiliki kemampuan yang hampir menyaingi sang guru.
Sang guru memiliki seorang putri bernama Dewi Plontang Sari. Ia cantik dan lembut, membuat banyak murid terpikat kepadanya. Blater, sebagai murid tertua, merasa bahwa dirinya berhak menggantikan kedudukan sang guru suatu hari dan berhak pula meminang sang Dewi. Namun, Dewi Plontang Sari tidak memiliki keinginan menikah dengan siapa pun. Ia menganggap semua murid sang guru sebagai saudara sendiri, terutama karena ia tumbuh tanpa saudara kandung.
Ketika sang guru wafat tanpa meninggalkan pesan, suasana padepokan berubah menjadi kacau. Blater yang merasa paling berhak melanjutkan kepemimpinan mulai mengejar Dewi Plontang Sari dengan berbagai cara. Sang Dewi yang merasa malu dan tertekan akhirnya pergi diam diam meninggalkan padepokan. Kepergiannya menimbulkan kemarahan Blater. Ia bertekad mengejarnya, tetapi langkahnya dihalangi oleh Kunto, adik seperguruannya. Pertarungan pun terjadi, dan Kunto gugur. Aji yang mengetahui hal itu juga berusaha menghentikan Blater, namun ia pun tewas dalam pertarungan.
Blater terus mengejar Dewi Plontang Sari hingga akhirnya menemukannya beberapa waktu kemudian. Namun kondisi sang Dewi telah memburuk. Dalam keadaan sakit keras ia mengembuskan napas terakhir di pangkuan Blater. Dengan penuh duka Blater menguburkan Dewi Plontang Sari di tempat ia ditemukan. Sejak saat itu daerah tersebut dikenal sebagai Plontang, yang kemudian seiring waktu berubah menjadi Pontang.
Bertahun tahun kemudian wilayah Pontang menarik perhatian para perantau. Daerah itu terkenal sangat subur. Tanahnya yang hitam dan gembur membuat siapa pun yang datang terpikat. Sekitar tahun 1880 para perantau dari Ponorogo, Ngawi, Bojonegoro, dan daerah lain tiba. Mereka bertekad membuka hutan belantara menjadi lahan pertanian. Setelah bertahun tahun bekerja keras, pada tahun 1905 hutan itu berubah menjadi hamparan sawah luas. Para pendatang mendirikan gubuk gubuk sederhana sebagai tempat tinggal sementara. Gubuk gubuk itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perkampungan.
Lahan pertanian Pontang semakin terkenal. Sawah sawahnya menghasilkan padi yang melimpah, menjadi sumber karbohidrat utama bagi masyarakat. Beras hasil panen Pontang dijadikan makanan pokok yang menghidupi banyak keluarga. Kesuburan Pontang menyebar dari mulut ke mulut hingga semakin banyak perantau berdatangan untuk membuka lahan baru. Dalam waktu singkat kawasan yang dahulu berupa hutan berubah menjadi desa pertanian yang ramai.
Pada awalnya Pontang masuk dalam wilayah administratif Desa Watukebo. Namun karena pertumbuhan penduduk yang pesat, pada tahun 1917 Pontang memisahkan diri dan berdiri sebagai desa sendiri. Petinggi pertama desa ini adalah seorang tokoh bernama Seban, yang kemudian dikenal dengan gelar Seban Joyo Prakoso. Di bawah kepemimpinannya Desa Pontang berkembang menjadi desa yang mandiri dengan lahan pertanian yang produktif.
Kisah Desa Pontang menunjukkan bahwa tanah yang subur adalah anugerah yang harus dijaga. Para perantau yang datang ke sana mengolah lahan dengan penuh kesabaran, menjadikan Pontang sebagai sumber pangan yang tidak hanya penting bagi warga setempat, tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Padi yang dihasilkan dari sawah Pontang menjadi simbol kerja keras dan harapan bagi banyak keluarga.
Melalui cerita asal usulnya, Desa Pontang mengajarkan bahwa alam dapat memberikan kelimpahan jika manusia memperlakukannya dengan hormat dan tekun. Lahan pertanian tidak hanya menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga menjadi tempat yang menumbuhkan kehidupan, sejarah, dan identitas. Pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa kesejahteraan lahir dari kerja sama antara manusia dan alam, serta kemampuan menjaga warisan tanah agar tetap menghasilkan kebaikan untuk generasi mendatang.