Dusun Banjarsari dan Kebonsari Desa Sabrang

URL Cerital Digital: https://ppid-desa.jemberkab.go.id/desa/sabrang

Setelah memenangkan sayembara yang diadakan oleh Pangeran Puger, Aryo Blater menyadari bahwa hadiah yang ditawarkan bukanlah sesuatu yang dapat ia terima. Sayembara itu bukan sekadar adu kesaktian, tetapi juga penentuan calon pemimpin baru wilayah tersebut. Pangeran Puger berniat menyerahkan kedudukannya kepada siapa pun yang keluar sebagai pemenang. Namun Aryo Blater telah memiliki kedudukan sendiri dan tidak berniat menggantikan kepemimpinan siapa pun. Dengan penuh kerendahan hati ia memohon maaf kepada Pangeran Puger atas ketidaktahuannya mengenai maksud sayembara itu dan berpamitan dengan hormat.

Rombongan kemudian memutuskan untuk kembali pulang. Dalam perjalanan pulang itu, Aryo Blater teringat pada sekelompok perompak yang pernah ditangkap dan ditahan di suatu tempat. Ia merasa perlu memperbaiki keadaan sebelum meninggalkan wilayah itu. Sesampainya di lokasi penahanan, ia membebaskan para perompak tersebut. Dengan ketegasan sekaligus welas asih, ia meminta mereka untuk berhenti merampas hak orang lain dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Para perompak pun memohon ampun dan berjanji untuk berubah. Mereka kemudian ikut berjalan bersama rombongan menuju arah utara.

Untuk menghindari Sungai Mayang yang terkenal deras dan sulit diseberangi, rombongan memilih jalur lain. Jalan itu membawa mereka melewati sebuah kawasan yang dipenuhi tanaman bambu. Di kanan jalan, bambu tumbuh bergerombol dalam rumpun besar. Sedangkan di kiri jalan, bambu tumbuh berjajar panjang seperti ditanam dengan pola tertentu. Deretan bambu itu menciptakan bayangan yang panjang, membuat udara menjadi sejuk dan teduh. Tumbuhan bambu ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu manfaatnya adalah rebung, tunas bambu muda yang dapat diolah menjadi makanan. Rebung yang diambil dari bambu muda dapat dimasak menjadi sayur, tumis pedas, atau lauk tambahan yang bergizi. Dalam kehidupan masyarakat sekitar, rebung menjadi sumber pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mudah ditemukan.

Melihat hamparan bambu yang tumbuh berbeda di kiri dan kanan jalan, Aryo Blater memberikan kesaksiannya kepada para pengawal. Ia berkata bahwa jika pada masa mendatang wilayah itu berkembang, bagian kiri yang memiliki bambu berjajar akan dinamai Banjarsari, sedangkan bagian kanan yang ditumbuhi bambu bergerombol akan dinamai Kebonsari. Nama nama itu dipilih dari ciri khas tumbuhan bambu yang tumbuh di sana. Banjarsari berasal dari susunan bambu yang berjajar, sementara Kebonsari dari rumpun bambu yang tumbuh seperti kebun kecil. Kesaksian itu dipegang oleh para pengawal, dan hingga hari ini kedua nama tersebut melekat sebagai bagian dari wilayah Dusun Kebonsari di Desa Sabrang.

Kisah ini bukan hanya tentang perjalanan seorang pemimpin, tetapi juga tentang bagaimana tumbuhan lokal seperti bambu memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat. Bambu tidak hanya menjadi pelindung dari panas matahari, tetapi juga menyediakan rebung yang dapat diolah menjadi makanan. Rebung adalah contoh betapa alam menyediakan sumber pangan yang bergizi, ringan, dan mudah diolah. Dalam tradisi kuliner Jawa Timur, rebung sering dijadikan masakan yang menghangatkan tubuh dan memberi kekuatan bagi pekerja dan petani.

Kisah Dusun Banjarsari dan Kebonsari mengajarkan bahwa tumbuhan yang kita temui sehari hari bisa menjadi penanda sejarah, identitas wilayah, sekaligus sumber kehidupan. Hubungan manusia dengan alam terlihat dalam cara masyarakat memanfaatkan rebung sebagai makanan dan bambu sebagai peneduh serta bahan bangunan. Nilai kearifan lokal dalam cerita ini mengajak kita untuk melihat alam sebagai sahabat yang setia. Ia memberi tanpa meminta banyak balasan, asalkan manusia bersedia menjaga dan menghormatinya.

Cerita ini menyampaikan pesan bahwa kesejahteraan lahir dari penghargaan terhadap alam. Tanaman bambu yang sederhana dapat membentuk budaya, sejarah, dan identitas suatu tempat. Melalui kebijaksanaan tokoh masa lalu dan pemanfaatan pangan lokal seperti rebung, kita diajak untuk memahami bahwa keberlanjutan hidup terletak pada keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap tempat memiliki cerita, dan setiap tumbuhan memiliki makna dalam kehidupan masyarakat yang merawatnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.