Kesaktian Mpu Bharada

URL Cerital Digital: https://daerah.sindonews.com/read/795881/29/kesaktian-mpu-bharada-penasihat-raja-airlangga-yang-mampu-terbang-membelah-kerajaan-kahuripan-pakai-air-kendi-1655021207

Pada masa kejayaan Kerajaan Kahuripan, ketika sungai-sungai mengalir jernih dan sawah terbentang luas di sepanjang dataran Jawa Timur, Raja Airlangga dilanda kegundahan yang mendalam. Setelah bertahun-tahun memerintah dan menjaga ketenteraman negeri, ia ingin melepaskan kekuasaan dan menjalani hidup sebagai seorang pendeta. Namun keinginannya itu berbenturan dengan kenyataan yang getir. Dua putranya terjebak dalam persaingan keras untuk memperebutkan takhta. Airlangga memahami bahwa perebutan kekuasaan akan berujung pada pertumpahan darah jika tidak segera dihentikan. Ia mencari jalan damai, jalan yang tidak memutus kehidupan rakyatnya. Dalam pemikirannya, air selalu menjadi lambang keseimbangan. Selama air mengalir, ladang tetap subur dan kehidupan rakyat terjaga. Maka ia berusaha mengatur masa depan kerajaan agar aliran kehidupan itu tidak terputus.

Sang raja kemudian berniat menempatkan salah satu putranya di Bali, tanah leluhurnya. Untuk menyampaikan maksud tersebut, ia mengutus Mpu Bharada, seorang resi yang dikenal memiliki kesaktian dan kebijaksanaan. Dalam kisah yang hidup di tengah masyarakat, Mpu Bharada diceritakan melakukan perjalanan ke Bali dengan menumpang sehelai daun, melayang di atas samudra seperti air yang mengikuti kehendak alam. Sesampainya di Bali, Mpu Bharada menyampaikan pesan Raja Airlangga kepada Raja Bali, yang tak lain adalah adik sang raja sendiri. Namun niat tersebut ditolak. Penolakan itu membawa kabar duka ke Kahuripan. Airlangga pun menyadari bahwa jalan damai yang ia harapkan tidak lagi dapat ditempuh dengan mudah. Dengan hati yang berat, Raja Airlangga memutuskan membelah Kerajaan Kahuripan menjadi dua wilayah agar kedua putranya tidak saling menghancurkan. Dalam naskah-naskah kuno seperti Nagarakertagama dan Serat Calon Arang, diceritakan bahwa Mpu Bharada kembali memegang peran penting. Ia ditugaskan untuk menetapkan batas kedua kerajaan tersebut.

Mpu Bharada terbang di atas bumi Kahuripan sambil membawa kendi berisi air. Air itu bukan air biasa. Dalam kepercayaan masyarakat, air kendi Mpu Bharada adalah lambang kehidupan, kesuburan, dan keadilan. Saat air itu dikucurkan perlahan dari udara, ia jatuh ke tanah, mengalir mengikuti lekuk alam, membentuk garis yang kemudian dipercaya sebagai cikal bakal Sungai Brantas. Dari cucuran air itulah wilayah Kadiri dan Jenggala terpisah. Namun sekaligus, air itu pula yang menyatukan keduanya dalam satu sistem kehidupan. Sungai yang terbentuk dari tetesan air kendi menjadi sumber irigasi, jalur perdagangan, dan tumpuan hidup masyarakat. Air tidak hanya membelah wilayah, tetapi juga memastikan bahwa kedua kerajaan tetap dapat bertahan dan berkembang. Dalam proses tersebut, dikisahkan jubah Mpu Bharada tersangkut pada ranting pohon asam. Amarahnya memuncak, dan ia mengutuk pohon itu menjadi kerdil. Peristiwa ini dipercaya sebagai asal mula kawasan Kamal Pandak. Namun di balik kutukan itu, air tetap mengalir tanpa dendam, menyusupi tanah, memberi minum pada akar-akar kehidupan. Setelah batas wilayah ditetapkan, Mpu Bharada mengucapkan sumpah bahwa siapa pun yang melanggar garis air tersebut akan menemui kesialan. Ia kemudian menghentikan prosesi dan memilih bertapa di Kamal Pandak. Sejak saat itu, air yang mengalir di wilayah tersebut dipandang sebagai air bertuah, air yang menyimpan pesan agar manusia tidak serakah dan tahu batas.

Bagi masyarakat Jawa Timur, air bukan sekadar pelengkap hidup, melainkan pangan utama yang menopang segalanya. Air menentukan keberhasilan panen padi, kelangsungan ternak, dan keberadaan pangan lain di meja makan. Dari sungai, sumur, hingga mata air, semuanya dijaga dengan adat dan kepercayaan, karena air diyakini memiliki roh kehidupan. Kisah air kendi Mpu Bharada mengajarkan bahwa air memiliki kuasa yang lembut namun menentukan. Ia mampu membentuk batas tanpa kekerasan, menumbuhkan kehidupan tanpa paksaan, dan mengingatkan manusia akan pentingnya keseimbangan. Dalam kearifan lokal Jawa Timur, menjaga air berarti menjaga hidup itu sendiri. Melalui cerita ini, masyarakat diajak untuk kembali menghormati air sebagai anugerah. Air bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan diwariskan. Seperti cucuran air kendi Mpu Bharada yang membentuk sejarah, air hari ini pun menentukan masa depan. Selama manusia mampu hidup selaras dengan alam dan memahami makna air sebagai sumber pangan dan kehidupan, keseimbangan itu akan terus mengalir dari generasi ke generasi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.