Di lereng Pegunungan Anjasmoro yang hijau dan berkabut, tersembunyi sebuah sumber air yang sejak lama menjadi denyut kehidupan masyarakat Desa Medowo. Air itu tidak hanya mengalir membasahi bebatuan dan menyuburkan tanah, tetapi juga menyimpan kisah pertemuan, harapan, dan awal sebuah komunitas. Orang-orang menyebutnya Sumber Jodo.
Konon, pada masa ketika hutan masih lebat dan ladang belum banyak dibuka, dua orang perantau tiba di kawasan tersebut pada waktu yang hampir bersamaan. Mereka datang dari arah yang berbeda, membawa kelelahan perjalanan panjang dan harapan akan kehidupan baru. Di tengah pencarian tempat bernaung, keduanya dipertemukan oleh gemericik air yang jernih dan dingin, mengalir dari sela-sela batu besar di kaki bukit.
Air dari sumber itu menjadi penolong pertama mereka. Tegukan demi tegukan menghapus dahaga, membangkitkan tenaga, dan menguatkan raga yang letih. Dari pertemuan sederhana di tepi sumber air itulah, percakapan bermula. Hari berganti hari, keduanya kerap kembali ke sumber yang sama untuk mengambil air, mencuci hasil ladang, dan beristirahat. Air tidak hanya menghidupi tubuh mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa saling percaya dan kasih.
Waktu kemudian mengikat pertemuan itu menjadi ikatan yang lebih dalam. Mereka menikah dan menetap di sekitar sumber tersebut. Dari sanalah kehidupan baru tumbuh. Ladang dibuka, rumah-rumah sederhana didirikan, dan air dari Sumber Jodo menjadi penopang utama kehidupan. Ia diminum, digunakan untuk memasak, serta menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Masyarakat yang lahir dari keturunan pasangan itu mewarisi keyakinan bahwa air Sumber Jodo memiliki khasiat khusus. Airnya yang dingin dan bersih dipercaya mampu meredakan pegal, nyeri sendi, dan rematik, terutama bila digunakan pada pagi hari. Hingga kini, warga masih memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan minum setelah bekerja di ladang, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan tubuh.
Bagi masyarakat Medowo, air bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan pangan utama yang menentukan keberlangsungan hidup. Air Sumber Jodo mengajarkan bahwa alam menyediakan segalanya asalkan dijaga dan dihormati. Hutan di sekitarnya tidak ditebang sembarangan, jalur air dirawat bersama, dan cerita tentang asal-usul sumber ini terus dituturkan dari generasi ke generasi. Legenda Sumber Jodo pada akhirnya bukan hanya kisah tentang jodoh dua insan, tetapi juga tentang pertemuan manusia dengan alam yang memberi kehidupan. Air menjadi saksi lahirnya sebuah desa, penyambung kehidupan, sekaligus pengingat bahwa pangan paling dasar sering kali datang dari sumber yang paling alami. Dari kisah ini, tersimpan pesan bahwa menjaga air berarti menjaga masa depan, serta menghormati alam sama artinya dengan menghormati kehidupan itu