Di Dusun Dempel, Desa Tumapel, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, malam Kamis memiliki suasana yang berbeda. Saat senja turun dan angin membawa aroma tanah basah, warga mulai melangkah menuju sebuah petilasan tua. Di tempat itulah, tradisi manaqiban Mbah Sentono dijalankan secara turun-temurun, menjadi denyut spiritual desa yang tak pernah terputus oleh zaman.
Petilasan Mbah Sentono diyakini sebagai tempat persinggahan tokoh pembuka Desa Tumapel. Dahulu, wilayah ini masih berupa hutan belantara. Mbah Sentono datang tidak hanya untuk membuka alas, tetapi juga menanamkan nilai kebajikan. Ia mengajarkan kehidupan yang tertib, saling menghormati, dan selalu mengingat Sang Pencipta. Setelah wafat, ajarannya tidak ditinggalkan. Ia hidup dalam ingatan kolektif warga melalui manaqiban.
Setiap Kamis malam, warga berkumpul di pendapa petilasan. Mereka duduk bersila, membawa kitab manaqib, serta sajian pangan sederhana dari rumah. Suara doa dan puji-pujian mengalun pelan, menyatu dengan suasana hening. Manaqiban bukan sekadar pembacaan riwayat tokoh saleh, tetapi sarana untuk mengingat nilai hidup yang diteladankan Mbah Sentono.
Dalam tradisi ini, pangan memiliki peran penting. Sajian yang dibawa bukan untuk kemewahan, melainkan sebagai wujud kebersamaan. Nasi, umbi-umbian, dan hasil olahan sederhana dari lingkungan sekitar sering menjadi bagian dari hidangan bersama. Di antara cerita yang disampaikan, para sesepuh kerap mengisahkan pohon gayam yang tumbuh di belakang petilasan. Buah gayam dahulu menjadi pangan cadangan warga, terutama saat hasil sawah tidak mencukupi.
Setelah doa selesai, makanan dibagi dan dimakan bersama. Pangan dalam manaqiban berfungsi sebagai perekat sosial. Tidak ada perbedaan status, semua duduk sejajar, menyantap hidangan yang sama. Kebersamaan ini mencerminkan ajaran Mbah Sentono tentang hidup sederhana dan saling berbagi.
Pintu masuk petilasan yang rendah mengharuskan setiap orang menunduk. Sikap itu terus terulang setiap Kamis malam, menjadi pengingat bahwa dalam doa dan dalam hidup, manusia harus rendah hati. Nilai ini dikuatkan melalui manaqiban, yang mengajarkan bahwa kebajikan tidak hanya diucapkan, tetapi dipraktikkan dalam sikap sehari-hari.
Pada bulan Sura, manaqiban menjadi lebih khidmat. Pengunjung dari berbagai daerah datang mengikuti doa bersama. Mereka tidak hanya mencari ketenangan batin, tetapi juga ingin merasakan suasana kebersamaan yang jarang ditemukan di tengah kehidupan modern. Di sinilah manaqiban menjadi ruang pertemuan antara spiritualitas, tradisi, dan pangan lokal.
Tradisi ini terus dipertahankan oleh warga Tumapel. Mereka memahami bahwa manaqiban bukan ritual kosong, melainkan sarana merawat ingatan kolektif. Melalui doa, cerita, dan makan bersama, nilai kebajikan diwariskan tanpa harus tertulis.