Arak-Arakan Jaranan Jur

URL Cerital Digital: https://jatimtimes.com/baca/330475/20250129/160100/jaranan-jur-warisan-budaya-tak-benda-yang-menghidupkan-sejarah-gong-kyai-pradah-di-blitar

Di tengah kehidupan masyarakat Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah tradisi sakral yang tidak hanya memadukan unsur seni dan spiritualitas, tetapi juga menyimpan kisah magis tentang sebuah pusaka kuno bernama Gong Kyai Pradah. Tradisi itu dikenal dengan nama Jaranan Jur — sebuah arak-arakan kuda kepang yang dipercaya memiliki hubungan erat dengan penemuan pusaka tersebut. Hingga kini, tradisi ini tetap hidup, menjadi warisan budaya takbenda yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kisah bermula pada masa ketika Gong Kyai Pradah dianggap hilang dari peradaban manusia. Gong yang diyakini berasal dari zaman Kerajaan Mataram Islam itu awalnya dikenal sebagai Bendil Kiai Bicak. Menurut cerita turun-temurun, pusaka ini dahulu digunakan oleh Panembahan Senopati dalam peperangan, sebagai lambang kekuatan dan kejujuran. Dalam perjalanan sejarahnya, gong tersebut pernah dibawa oleh Pangeran Prabu menuju Lodoyo, tempat di mana pusaka itu kemudian dijadikan pusat upacara adat dan simbol spiritual masyarakat Blitar.

Namun waktu berjalan panjang, dan pusaka itu menghilang. Tak seorang pun mengetahui keberadaannya, hingga kisah ajaib datang dari seorang janda tua yang dikenal dengan nama Mbok Rondo Dadapan. Suatu sore pada tahun 1949, ketika ia memanjat pohon kelapa di halaman rumahnya, salah satu buah kelapa tiba-tiba jatuh dengan cara yang aneh. Kelapa itu tidak menggelinding seperti biasanya, melainkan berputar dan berhenti di satu titik tanah. Dalam kebingungannya, Mbok Rondo memutuskan untuk menggali tempat itu, dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan sebuah benda logam besar yang tertimbun di sana. Itulah Gong Kyai Pradah yang selama puluhan tahun dipercaya hilang.

Malam itu, Mbok Rondo bermimpi. Dalam tidurnya, datang sosok yang memperkenalkan diri sebagai Dewi Sekartaji, perempuan suci yang disebut sebagai penjaga spiritual pusaka itu. Dewi Sekartaji berkata bahwa gong tersebut tidak bisa dipindahkan begitu saja, melainkan harus diarak dengan cara khusus melalui Jaranan Ngasinan, sebuah pertunjukan kuda kepang sakral. Arak-arakan ini harus dijalankan dengan penuh kesungguhan dan kejujuran hati, sebab hanya dengan ketulusanlah pusaka itu dapat kembali ke tempat yang semestinya.

Keesokan harinya, warga Desa Sukorejo berkumpul dan melakukan upacara sebagaimana pesan dalam mimpi itu. Mereka menyiapkan arak-arakan kuda kepang dengan iringan gamelan, tabuhan kendang, dan lantunan doa. Saat Jaranan mulai menari mengelilingi lokasi penemuan, suasana berubah mistis. Beberapa penari seperti tersentuh kekuatan gaib, dan gong yang tadinya sulit digerakkan tiba-tiba terasa ringan. Gong Kyai Pradah pun berhasil diangkat dan dibawa menuju Sanggar Pusaka dengan penuh penghormatan. Sejak saat itu, arak-arakan tersebut dikenal dengan nama Jaranan Jur, berasal dari kata “jur” yang berarti jujur atau tulus.

Jaranan Jur bukan hanya pertunjukan seni, melainkan simbol nilai luhur masyarakat Blitar. Menurut Suhendro Winarso, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, kesenian ini menekankan makna kejujuran. Setiap pemain Jaranan Jur wajib menjauhkan diri dari perilaku negatif seperti perjudian atau minuman keras. Mereka yang terlibat dalam arak-arakan ini harus menjaga hati agar bersih, karena dipercaya bahwa Jaranan Jur hanya akan menghadirkan keberkahan bagi mereka yang jujur pada diri sendiri dan alam semesta.

Dalam setiap pelaksanaannya, Jaranan Jur juga menjadi sarana syukur atas berkah alam yang melimpah di Desa Sukorejo. Di sela upacara, warga menyiapkan sesaji berupa hasil bumi seperti buah kelapa, pisang raja, dan beras yang berasal dari panen sawah setempat. Buah kelapa menjadi simbol penting dalam ritual ini, karena kisah penemuan gong sendiri bermula dari kejatuhan buah kelapa. Selain airnya yang segar sebagai pelepas dahaga, hampir seluruh bagian pohon kelapa dimanfaatkan warga untuk kehidupan sehari-hari: daunnya dijadikan atap, sabutnya untuk bahan bakar, batangnya untuk tiang rumah, dan buahnya untuk pangan serta bahan tradisional.

Maka, tradisi Jaranan Jur bukan sekadar seni tari kuda kepang yang mengiringi pusaka, melainkan cermin kehidupan masyarakat yang menghargai alam dan kejujuran. Air kelapa yang mengalir dalam sesaji, tanah tempat gong ditemukan, dan keringat para penari yang menari dengan hati tulus — semua menjadi simbol keterikatan manusia dengan alam yang menghidupi mereka.

Kini, setiap kali arak-arakan Jaranan Jur digelar, masyarakat Blitar akan datang berbondong-bondong. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga merenungkan pesan moral di baliknya: bahwa kejujuran dan rasa syukur kepada alam adalah kekuatan sejati yang menjaga kehidupan tetap seimbang. Dalam irama gamelan yang bertalu-talu dan gerakan kuda kepang yang gagah, tersimpan warisan spiritual yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, dari gong pusaka yang suci hingga buah kelapa yang menjadi simbol kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.