Di sebuah desa kecil bernama Maron Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, tersimpan sebuah cerita lama yang terus hidup dalam ingatan warganya. Cerita ini berhubungan erat dengan keberadaan sebuah arca yang dikenal sebagai Arca Kamaron. Arca ini dipercaya sebagai penanda awal mula berdirinya desa Maron Wetan, sekaligus mengikatkan kisah tentang cinta, pengorbanan, dan pencarian sumber kehidupan.
Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika Prabu Hayam Wuruk atau Sri Nata Rajasangara memimpin antara tahun 1336 hingga abad ke-14, hiduplah seorang tokoh bernama Raden Kandara. Ia berasal dari kalangan bangsawan, terbiasa hidup dalam kemewahan istana. Namun, dalam perjalanan hidupnya, Raden Kandara memilih untuk meninggalkan segala kenyamanan itu. Bersama istrinya yang setia, ia menempuh perjalanan panjang menuju sebuah wilayah baru yang masih berupa hutan dan lahan liar.
Motivasi perjalanan itu bukan semata mencari tempat tinggal, tetapi juga mencari sumber kehidupan berupa mata air. Di daerah yang kemudian dikenal dengan nama Kamaron, Raden Kandara berhasil menemukan sumber mata air yang jernih. Mata air itu menjadi titik awal lahirnya sebuah perkampungan yang perlahan berkembang menjadi desa Maron Wetan.
Untuk mengenang kisah pengorbanan dan cinta mendalam terhadap istrinya yang rela meninggalkan istana demi menemaninya, Raden Kandara kemudian membuat sebuah arca. Arca itu disebut Arca Kamaron. Pembuatan arca diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1400 Masehi. Kehadiran arca ini bukan hanya simbol cinta, tetapi juga menjadi tanda sakral lahirnya desa Maron Wetan yang berawal dari sumber mata air tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Arca Kamaron mendapat tempat istimewa di hati masyarakat setempat. Arca ini dipandang sebagai warisan sejarah yang harus dijaga, sekaligus pengingat bahwa kehidupan desa berawal dari perjuangan dan keberanian seseorang dalam mencari sumber air. Karena airlah yang memberi kehidupan, menumbuhkan lahan, dan menyatukan warga hingga terbentuklah desa yang ramai hingga sekarang.
Kini, Arca Kamaron telah diamankan di tempat yang lebih terlindung untuk mencegah pencurian atau kerusakan. Meski demikian, kisahnya tetap diceritakan turun-temurun. Warga Maron Wetan percaya bahwa keberadaan arca ini adalah saksi bisu dari perjalanan panjang nenek moyang mereka, dan sumber air Kamaron masih dianggap sebagai anugerah yang tak ternilai.
Arca Kamaron bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga cermin bahwa pangan dan kehidupan masyarakat berakar dari air. Sumber air Kamaron telah memberikan kehidupan sejak masa Raden Kandara hingga generasi sekarang, menghidupi lahan pertanian dan memenuhi kebutuhan warga desa. Cerita ini menegaskan betapa eratnya hubungan manusia dengan sumber air, sebagai awal mula terbentuknya peradaban dan kehidupan bersama.