
Di masa ketika Trenggalek masih berupa wilayah luas dengan hutan liar dan gunung yang angker, hubungan antara manusia dan alam sangat ditentukan oleh kekuatan gaib yang dipercaya tinggal di berbagai tempat. Saat itu, kawasan lereng Gunung Wilis dikuasai oleh Raja Bedander, sosok sakti yang memiliki ambisi besar untuk memperluas wilayah kekuasaannya ke arah selatan. Namun daerah selatan merupakan wilayah kekuasaan Adipati Minak Sopal, pemimpin Trenggalek yang arif sekaligus tangguh. Ambisi Raja Bedander pun memicu perselisihan yang kemudian berubah menjadi pertarungan panjang antara keduanya.
Demi menghindari jatuhnya korban dari pihak rakyat, Adipati Minak Sopal menantang Raja Bedander untuk bertarung secara langsung. Tantangan itu diterima, dan dimulailah perjalanan panjang Raja Bedander beserta pasukannya menuju Trenggalek. Jaraknya sangat jauh, sehingga rombongan itu beristirahat di sebuah daerah bernama Srabah. Saat beristirahat, Raja Bedander menancapkan payungnya ke tanah. Konon, bekas tancapan itu berubah menjadi batu yang berbentuk payung, dan tempat itu kemudian dinamakan Watu Payung.
Setelah beristirahat, rombongan kembali bergerak ke selatan, namun sempat beristirahat lagi sambil menabuh gamelan. Hiburan itu membuat perjalanan lebih ringan. Namun ketika akan melanjutkan perjalanan, Raja Bedander mengucapkan sabda yang mengubah gamelan itu menjadi batu, yang kini dikenal sebagai Batu Gong karena bentuknya menyerupai bilah-bilah gamelan.
Di tengah hutan sekitar Ngares, Raja Bedander akhirnya bertemu Adipati Minak Sopal. Pertarungan dahsyat pun meletus antara dua tokoh sakti ini. Adu kesaktian berlangsung berhari-hari, hingga akhirnya keduanya terlalu lelah untuk melanjutkan. Untuk menentukan pemenang, mereka setuju bertanding lagi melalui adu jago. Ayam mereka sama-sama sakti. Setiap cakar yang saling beradu memantik percikan api. Namun pada akhirnya ayam Adipati Minak Sopal berhasil mencakar ayam Raja Bedander hingga terjatuh. Keanehan terjadi ketika ayam itu berubah menjadi batu, sedangkan ayam milik Adipati Minak Sopal berubah menjadi bongkahan besi baja. Daerah itu lalu disebut Watu Jago.
Walau kalah, Raja Bedander tidak rela menerima kekalahannya. Mereka bertarung lagi, dan dalam adu kesaktian terakhir, keris Adipati Minak Sopal berhasil melukai Raja Bedander tepat di kemaluannya hingga putus. Luka itu membuat Raja Bedander lari ke utara, meninggalkan jejak darah di tanah yang kemudian dinamai Lemah Bang atau tanah merah. Namun kekalahan itu tidak menghentikan niat jahatnya. Dengan murka, ia mengancam akan mendatangkan banjir bandang besar dari Gunung Wilis untuk menghancurkan Trenggalek.
Ancaman ini membuat Adipati Minak Sopal harus menemukan cara untuk melindungi rakyat. Dari bisikan gaib orang tuanya yang berasal dari siluman Raja Buaya dan Roro Amis, Adipati diberi tahu bahwa satu-satunya cara mencegah banjir bandang adalah membangun bendungan di Bagong. Namun bendungan itu membutuhkan tumbal agar menjadi kokoh dan tak mudah jebol. Tumbal tersebut adalah gajah putih, hewan langka yang hanya dimiliki oleh Mbok Roro Krandon dari Ponorogo.
Dengan niat melindungi rakyatnya, Adipati Minak Sopal berangkat ke Ponorogo untuk meminjam gajah putih itu. Ia berjanji akan mengembalikan hewan tersebut suatu hari nanti. Tanpa mengetahui bahwa gajah itu akan dijadikan tumbal, Mbok Roro Krandon meminjamkannya dengan ikhlas. Gajah putih itu kemudian ditempatkan di sebuah kandang yang kini dikenal sebagai Watu Kandang. Pada hari yang ditentukan, gajah putih disembelih dan dibenamkan ke dalam dasar Dam Bagong sebagai tumbal. Setelah itu bendungan menjadi kokoh dan banjir besar tidak pernah menghancurkan Trenggalek.
Namun Mbok Roro Krandon menunggu gajahnya kembali. Ia menunggu di batas Ponorogo dan Trenggalek selama waktu yang sangat lama, hingga tongkatnya lapuk dimakan rayap. Tempat ia menunggu kemudian disebut Gunung Sebubuk. Ketika akhirnya ia mengetahui bahwa gajah putih miliknya telah dijadikan tumbal, ia menerima kenyataan itu dengan hati tulus demi keselamatan masyarakat Trenggalek.
Sejak saat itu, masyarakat Trenggalek mengadakan ritual untuk menghormati tumbal yang diberikan demi kesejahteraan mereka. Karena gajah putih sudah langka, tradisi tumbal diganti dengan penyembelihan kerbau. Ritual ini dilaksanakan di Dam Bagong setiap tahun dengan suasana sakral. Kerbau disembelih, kepala dan kakinya dibuang ke bendungan untuk diperebutkan warga, sementara dagingnya dimasak sebagai lauk yang dinikmati bersama dalam jamuan besar. Di malam hari digelar wayang kulit semalam suntuk sebagai bentuk permohonan keselamatan. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap alam, air, dan kesejahteraan.
Ritual ini juga berkaitan erat dengan pangan masyarakat. Daging kerbau menjadi sumber protein hewani, sementara ikan-ikan yang hidup di Dam Bagong menjadi sumber makanan harian. Air bendungan digunakan untuk irigasi sawah yang menghasilkan padi, palawija, dan berbagai produk pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Semuanya saling terhubung dalam siklus kehidupan yang dijaga oleh tradisi.
Melalui kisah ini, kita belajar bahwa pangan tidak hanya berasal dari tanah, tetapi juga dari hubungan manusia dengan alam. Ritual kerbau di Dam Bagong adalah wujud rasa syukur, pengingat bahwa kehidupan yang aman dan sejahtera harus dijaga bersama. Nilai kearifan lokal ini mengajarkan bahwa alam perlu dihormati, tradisi dijaga, dan manusia harus selalu sadar bahwa kesejahteraan datang dari keharmonisan antara usaha manusia dan berkah alam.