Asal Usul Asemmanis

URL Cerital Digital: https://desasuci.gresikkab.go.id/artikel/2023/2/7/sejarah-desa-suci-1

Pada masa kejayaan Sunan Giri di Gresik, terdapat seorang murid setianya yang bernama Syeikh Jamaludin Malik. Sang guru menugaskannya untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah barat Gresik, sebuah misi mulia yang tidak ringan. Dalam perjalanannya, ia harus menghadapi berbagai kesulitan, baik cuaca yang tidak menentu maupun kondisi sosial masyarakat yang belum dikenalnya. Namun semangat dakwah membuatnya terus melangkah hingga tiba di sebuah kampung bernama Polaman.

Di kampung itulah Syeikh Jamaludin mulai membaur dengan penduduk. Ia memahami kehidupan mereka, lalu mendirikan sebuah masjid sederhana sebagai pusat ibadah dan tempat mengajarkan ilmu agama. Tidak hanya itu, ia juga menggali sebuah sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Berkat karomah yang dimilikinya, air dari sumur itu menyembur deras, bahkan meluber ke segala arah. Masyarakat pun berbondong-bondong datang untuk mengambil manfaat dari sumber air tersebut.

Sumur itu akhirnya dinamai Sumur Gede. Meski ukurannya tidak berbeda jauh dengan sumur pada umumnya, manfaatnya sangat besar bagi masyarakat, sehingga nama itu melekat hingga kini. Tak jauh dari sumur itu tumbuh pohon asam yang menjulang tinggi. Buahnya memiliki rasa manis, berbeda dengan asam kebanyakan. Karena itu masyarakat mengabadikannya sebagai nama kampung, yaitu Asemanis. Seiring berjalannya waktu, penduduk semakin banyak dan kebutuhan air pun terus bertambah, hingga persediaannya menipis.

Merasa perlu mencari solusi, Syeikh Jamaludin kembali menghadap gurunya, Sunan Giri. Dengan penuh kebijaksanaan, Sunan Giri memberinya petunjuk untuk menelusuri lereng bukit di utara Polaman. Benar saja, di sela pepohonan rimbun ia menemukan sumber mata air jernih dan deras. Keberadaan mata air ini disambut syukur yang mendalam oleh masyarakat. Sebagai bentuk penghormatan, mereka mengadakan upacara Rebo Wekasan, sebuah tradisi yang diwariskan hingga sekarang.

Dalam pertemuan dan perayaan tradisi semacam itu, masyarakat sering menghidangkan pangan khas sebagai perekat kebersamaan. Salah satunya adalah wedang cemue, minuman hangat dari jahe, santan, kacang tanah, dan gula merah. Rasanya manis gurih, memberi kehangatan bagi tubuh yang berkumpul di malam Rebo Wekasan. Wedang cemue bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga simbol persaudaraan dan cara masyarakat Gresik merayakan rasa syukur atas anugerah air yang menyucikan kehidupan mereka.

Dari kisah Sumur Gede dan Kampung Asemanis kita belajar bahwa air dan pangan tradisional sama-sama menjadi penopang kehidupan. Sumur Gede memberi kesegaran lahiriah, sementara wedang cemue memberi kehangatan dan kebersamaan batiniah. Keduanya mengajarkan bahwa kesejahteraan masyarakat lahir dari berbagi anugerah, baik dalam bentuk sumber air maupun hidangan yang menyatukan hati.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.