
Pada masa ketika hutan masih lebat dan udara pagi masih beraroma tanah basah di Kediri, berdirilah sebuah kawasan yang kelak dikenal dengan nama Desa Bendo. Desa ini terletak di Kecamatan Pagu, dan nama “Bendo” diambil dari sejenis pohon besar yang tumbuh menjulang di hutan sekitar, yakni pohon bendo (Artocarpus elasticus). Pohon ini memiliki batang yang tebal dan daun lebar yang meneduhkan, sementara getahnya kental dan lengket. Bagi masyarakat zaman dahulu, pohon bendo bukan sekadar bagian dari hutan, melainkan sumber kehidupan yang memiliki manfaat bagi manusia dan hewan.
Konon, pada masa awal pembukaan wilayah ini, para pembabat hutan menemukan banyak pohon bendo tumbuh rapat di tepi sungai. Mereka kagum melihat ukuran batangnya yang besar, bahkan beberapa orang tua desa berkata bahwa dua orang dewasa yang saling berpegangan tangan pun tak mampu melingkari batangnya. Ketika ditebang, kayunya beraroma khas, dan getah putih yang mengalir dari luka batangnya menempel kuat pada kulit. Dari sinilah masyarakat mulai mengenal khasiat pohon bendo, terutama pada getahnya yang ternyata memiliki banyak manfaat praktis.
Getah bendo digunakan oleh para pemburu burung sebagai perekat alami. Mereka menempelkan getah itu di ranting-ranting pohon untuk menangkap burung perkutut, tekukur, atau jalak. Karena sifatnya yang sangat lengket, getah ini menjadi bahan utama dalam kegiatan berburu tradisional yang dilakukan dengan cara sederhana dan tidak merusak alam. Namun selain sebagai alat bantu, getah dan beberapa bagian lain dari pohon bendo juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Orang tua di desa sering merebus kulit batangnya untuk dijadikan ramuan penyembuh luka atau digunakan sebagai obat luar bagi nyeri otot dan keseleo.
Pohon bendo dikenal tahan terhadap perubahan cuaca, tumbuh baik di dataran rendah maupun hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ia menjulang gagah di tengah hutan, seakan menjadi penanda arah bagi para pengembara. Dalam kepercayaan lama masyarakat Kediri, pohon bendo dianggap sebagai penjaga wilayah dan simbol keteguhan. Mereka percaya bahwa selama pohon bendo masih berdiri tegak, desa akan terlindungi dari bencana besar. Tak heran bila pada masa dahulu, masyarakat selalu berhati-hati ketika hendak menebang pohon ini. Setiap pohon yang ditebang harus disertai upacara kecil sebagai bentuk permohonan izin kepada alam.
Seiring waktu, nama “Bendo” semakin dikenal dan digunakan di berbagai wilayah sekitar. Tidak hanya di Kecamatan Pagu, tetapi juga di Pare, Mojo, hingga Blitar dan Tulungagung. Keberadaan nama-nama seperti Sumberbendo, Bendorejo, Bendosari, dan Bendogerit menunjukkan betapa kuatnya pengaruh pohon ini dalam sejarah penamaan daerah di Jawa Timur. Meskipun kini pohon bendo termasuk kategori langka, kisah tentang manfaat dan keberkahannya masih hidup di hati masyarakat. Mereka mengenang bendo sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam: kuat namun bermanfaat, besar namun tidak angkuh.
Dari cerita asal-usul Desa Bendo, kita belajar bahwa alam selalu memiliki cara untuk mengingatkan manusia tentang pentingnya kebijaksanaan dalam memanfaatkan sumber daya. Pohon bendo, dengan segala kegunaannya, mengajarkan nilai ketekunan dan kehati-hatian. Ia memberi manfaat tanpa pamrih, tetapi juga menuntut rasa hormat dari mereka yang memetiknya. Seperti masyarakat Desa Bendo yang dahulu membangun hidup dari tanah subur di kaki hutan, manusia modern pun perlu meneladani kearifan itu: memanfaatkan tanpa merusak, dan menjaga agar alam tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya.