Asal Usul Desa Besole

URL Cerital Digital: https://bacaini.id/10-nama-desa-di-kediri-yang-diambil-dari-tumbuhan/

Pada masa dahulu, ketika hutan-hutan di Kediri masih rimbun dan belum banyak dijamah manusia, hiduplah seorang perempuan tua bernama Mbok Rondo Besuki. Ia tinggal sendirian di sebuah gubuk sederhana di tepi hutan dataran rendah yang kini dikenal sebagai wilayah Desa Besole. Meski hidupnya sederhana, Mbok Rondo dikenal bijak dan pandai memanfaatkan hasil alam. Setiap hari ia berjalan menyusuri hutan untuk mencari ranting kering, daun herbal, serta kayu bakar. Di antara berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar tempat tinggalnya, ada satu yang paling sering ia gunakan, yaitu pohon besole (Cydenanthus excelsus).

Pohon besole tumbuh menjulang hingga tiga puluh meter, dengan banyak ranting yang menyebar ke segala arah. Kulit batangnya berwarna cokelat keabu-abuan, daunnya hijau tua mengilap, dan kayunya agak lunak jika dibandingkan dengan pohon keras lainnya. Karena memiliki banyak cabang kecil yang mudah dipatahkan, besole sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar. Kayunya menghasilkan panas yang merata dan tidak mudah padam, sehingga Mbok Rondo sering mengumpulkan rantingnya untuk menanak nasi atau memasak air di tungku tanah liatnya.

Masyarakat sekitar sering melihat Mbok Rondo berjalan memikul ranting-ranting besole di pundaknya. Mereka kemudian menamainya “Mbok Rondo Besuki si pengumpul besole.” Ia tidak hanya menggunakan kayu itu untuk dirinya sendiri, tetapi juga membaginya kepada warga lain yang kesulitan mencari bahan bakar. Dalam kesehariannya, ia selalu berpesan kepada anak-anak muda di desa agar tidak menebang pohon sembarangan. “Pohon besole ini bukan hanya untuk dibakar,” katanya lembut, “tapi juga untuk hidup, karena dari rantingnya kita belajar arti ketekunan dan manfaat kecil yang besar.”

Seiring berjalannya waktu, masyarakat menyadari bahwa pohon besole tidak hanya bermanfaat sebagai kayu bakar. Beberapa bagian dari pohon ini, seperti kulit dan daunnya, digunakan untuk pengobatan tradisional. Air rebusannya dipercaya dapat membantu meredakan pegal, nyeri sendi, dan gangguan pencernaan. Namun, karena kayunya dianggap kurang baik untuk bahan bangunan dan mudah lapuk jika terkena hujan, pohon ini jarang dibudidayakan secara besar-besaran. Ia tumbuh liar di dataran rendah hingga ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, menjadi bagian dari lanskap alami yang melengkapi kehidupan masyarakat pedesaan.

Nama “Besole” sendiri kemudian lahir dari kebiasaan masyarakat yang sering menyebut wilayah hutan tempat tumbuhnya pohon-pohon itu sebagai “alas besole,” yang berarti hutan tempat pohon besole tumbuh. Setelah Mbok Rondo Besuki wafat, orang-orang yang tinggal di sekitarnya terus melestarikan sebutan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kisah dan ajaran yang ia tinggalkan. Maka, ketika desa itu resmi berdiri, mereka sepakat menamainya Desa Besole, sebagai pengingat akan hubungan manusia dengan alam yang penuh makna.

Kini, Desa Besole dikenal sebagai daerah yang tetap mempertahankan kesederhanaan dan kedekatannya dengan alam. Walaupun perkembangan zaman membawa banyak perubahan, sebagian warga masih menanam beberapa pohon besole di lahan mereka, sekadar untuk menjaga warisan leluhur. Pohon itu menjadi simbol ketenangan dan kehangatan, karena setiap kali api menyala dari rantingnya, masyarakat seakan teringat pada semangat hidup Mbok Rondo yang tak pernah padam.

Kisah asal-usul Desa Besole mengajarkan kita bahwa tidak ada yang sia-sia dari alam. Bahkan pohon yang dianggap remeh karena kayunya tidak kokoh sekalipun memiliki manfaat besar bagi kehidupan. Besole menjadi lambang kearifan lokal masyarakat Jawa Timur dalam memanfaatkan alam dengan bijak. Dari hutan yang sederhana lahir pelajaran mendalam: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kerasnya kayu, tetapi pada api kebaikan yang menyala dari hati mereka yang tahu cara bersyukur dan berbagi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.