Pada masa silam, ketika kerajaan-kerajaan di Jawa masih berdiri megah, terdapat rombongan utusan yang dikirim untuk mencari obat-obatan dari rempah pribumi. Mereka berjalan menembus hutan lebat, melewati aliran sungai yang berliku, dan menapaki tanah Rajekwesi, wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro. Perjalanan itu tidak mudah. Terik matahari membakar tubuh, langkah terasa berat, dan dahaga menggerogoti. Namun, mereka tetap melangkah dengan harapan menemukan rempah yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Setelah menempuh perjalanan panjang, tibalah mereka di sebuah tempat yang seakan menyambut dengan keindahan alami. Di tengah hamparan tanah luas berdiri sebuah pohon yang sangat besar dan rindang. Pohon itu begitu kokoh hingga seolah menjadi penopang langit. Jenisnya menyerupai pohon beringin, tetapi masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Pohon Bulu. Di bawah teduhannya, rombongan utusan itu beristirahat. Rasa penat seketika sirna ketika mereka merasakan sejuknya angin yang berembus di sela-sela dahan.
Saat tubuh mulai segar kembali, rasa penasaran pun muncul. Beberapa anggota rombongan melihat ada tanaman liar yang tumbuh di sekitar akar pohon tersebut. Tanaman itu berdaun hijau, dengan umbi yang tersembunyi di dalam tanah. Salah seorang dari mereka yang paham akan tumbuhan berteriak penuh kegembiraan, karena ia mengenali tanaman itu sebagai bangle, atau yang kini juga dikenal dengan nama lempuyang.
Bangle bukanlah tanaman biasa. Sejak lama, masyarakat Jawa meyakini umbinya dapat dijadikan ramuan obat yang mujarab. Umbi ini bisa menjadi campuran jamu untuk menambah daya tahan tubuh, menghangatkan badan, serta menyembuhkan berbagai penyakit. Para utusan pun segera mengumpulkan tanaman itu dengan penuh sukacita. Mereka tahu bahwa perjalanan panjang yang penuh kesulitan akhirnya berbuah penemuan berharga.
Sejak saat itu, daerah di sekitar Pohon Bulu menjadi tempat yang dikenal luas sebagai sumber rempah berkhasiat. Warga setempat kemudian menamai desa yang tumbuh di wilayah itu dengan nama Desa Bulu, mengambil nama dari pohon besar yang menaungi kisah tersebut. Hingga kini, tanaman bangle masih banyak ditemukan di pekarangan rumah warga Desa Bulu. Meski zaman terus berganti, masyarakat tetap menjaga tradisi menggunakan bangle sebagai bagian penting dalam ramuan obat dan jamu mereka.
Legenda ini bukan hanya kisah tentang penemuan tanaman obat, tetapi juga pengingat tentang bagaimana alam menyediakan kebutuhan manusia. Pohon Bulu menjadi simbol keteduhan, sementara bangle atau lempuyang menjadi lambang kesehatan. Keduanya berpadu dalam sejarah yang diwariskan turun-temurun, sehingga Desa Bulu tidak hanya dikenal sebagai sebuah nama tempat, melainkan juga sebagai penanda kearifan lokal masyarakat Jawa Timur yang menjadikan rempah sebagai sahabat kehidupan.