Asal Usul Desa Cangkring

URL Cerital Digital: https://bloktuban.com/2023/10/09/populer-telur-bebek-asinnya-begini-sejarah-desa-cangkring-tuban-36815.html#:~:text=Beliau%20adalah%20seorang%20pendakwah%20dan,memperkenalkan%20sebagai%20desa%20berbasis%20sedekah.

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat sebuah desa bernama Cangkring yang menyimpan kisah panjang tentang asal-usulnya. Nama desa ini bukan sekadar sebutan tanpa makna, melainkan berakar pada keberadaan sebuah pohon yang dahulu tumbuh lebat di wilayah tersebut, yakni pohon cangkring.

Pada masa lampau, penduduk setempat mengenal pohon cangkring sebagai tanaman semak yang banyak dijumpai di sekitar desa. Pohon ini dalam bahasa ilmiah disebut Erythrina fusca. Meski tampak sederhana, cangkring memiliki manfaat penting, terutama dalam konteks pangan dan kesehatan tradisional. Daun mudanya dapat diolah menjadi lalapan, dimakan mentah setelah dibersihkan, atau direbus sebagai sayur pendamping nasi. Selain itu, masyarakat juga kerap memanfaatkan daun cangkring sebagai ramuan obat tradisional untuk menjaga stamina tubuh dan meredakan keluhan ringan.

Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa ketika wilayah ini masih berupa hutan belukar, tumbuhlah banyak pohon cangkring. Lambat laun, pohon-pohon tersebut dibabat oleh warga agar tanahnya bisa digunakan sebagai lahan pemukiman. Namun meskipun pohonnya telah hilang, nama cangkring tetap dikenang. Dari sinilah kemudian desa baru itu diberi nama Desa Cangkring, sebagai penghormatan terhadap tumbuhan yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.

Seiring berjalannya waktu, Desa Cangkring berkembang tidak hanya karena hasil bumi dan tradisi bercocok tanam, tetapi juga karena peran tokoh-tokoh penting dalam penyebaran agama Islam. Salah satunya adalah Raden Santri, seorang pendakwah dari Jawa Tengah yang masih memiliki hubungan dengan Sunan Muria. Kehadirannya membawa perubahan besar karena banyak warga kemudian memeluk Islam, sehingga corak kehidupan masyarakat semakin erat dengan nilai-nilai keagamaan.

Kini, Desa Cangkring dikenal bukan hanya karena asal-usul namanya, melainkan juga karena ciri khas hasil pangan lain, yaitu produksi telur bebek asin. Desa ini juga tengah mengembangkan potensi wisata, salah satunya melalui rencana pembangunan pemancingan dan kuliner di area waduk desa. Selain itu, Cangkring mendapatkan julukan sebagai desa berbasis sedekah karena warganya memiliki tradisi berbagi hasil panen dalam bentuk zakat yang diadakan setiap tahun.

Kisah asal-usul Desa Cangkring mengajarkan bahwa tumbuhan lokal bukan hanya penanda sejarah, melainkan juga bagian dari identitas sebuah masyarakat. Pohon cangkring yang sederhana ternyata telah memberi nama, manfaat pangan, serta nilai budaya yang terus hidup di tengah warga hingga sekarang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.