Desa Claket di Mojokerto memiliki sejarah panjang yang berakar dari masa ketika wilayah tersebut masih berupa hutan belukar. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah itu pertama kali dibuka oleh seorang tokoh Hindu–Buddha bernama Mbah Sobo Kerto. Beliau dikenal sebagai orang yang sakti dan menjadi pelopor pembukaan lahan hingga akhirnya wilayah tersebut dapat dihuni dan berkembang menjadi kawasan permukiman.
Nama Claket sendiri berasal dari sejenis pohon bernama pohon Claket atau pohon Kedoya (Dysoxylum gaudichaudianum). Pohon ini merupakan jenis tumbuhan dari keluarga Meliaceae dan juga dikenal sebagai Ivory Mahagoni. Dahulu, pohon Claket banyak tumbuh di kawasan tersebut. Selain itu, masyarakat memanfaatkan daun dan kulit batangnya sebagai obat tradisional, terutama untuk mengatasi kejang serta iritasi kulit. Namun, seiring waktu keberadaan pohon ini semakin langka dan sulit ditemukan.
Dengan bertambahnya penduduk yang menetap di kawasan tersebut, terbentuklah Desa Claket sebagai satu kesatuan administratif. Berdirinya desa ini diyakini bertepatan dengan masa Perang Jawa (1825–1830), ketika Pangeran Diponegoro berjuang melawan pemerintahan kolonial VOC di bawah Gubernur Jenderal Hendrik Markus De Kock. Pada masa itulah kepemimpinan desa mulai terbentuk dan struktur masyarakat semakin tertata.
Sejak saat itu, Desa Claket terus berkembang menjadi sebuah permukiman yang ramai. Sejarah panjangnya yang berawal dari pembukaan hutan, keberadaan pohon Claket, serta keterkaitannya dengan masa penting dalam sejarah Jawa, menjadi bagian kuat dari identitas desa hingga saat ini.