
Dahulu kala, di sebuah wilayah terpencil yang masih berupa hutan lebat, datanglah seorang wali bersama para pengikutnya. Mereka sedang dalam perjalanan panjang, hingga tibalah waktu untuk menunaikan salat dhuhur. Rombongan itu pun mencari tempat yang layak untuk beribadah, namun di tengah hutan yang rimbun, mereka tidak menemukan lokasi yang sesuai.
Salah satu pengikut sang wali kemudian mengusulkan agar hutan itu dibuka. “Wahai Kiai, bagaimana jika kita membuka hutan ini menjadi padepokan, lalu kita tinggal di sini?” katanya penuh hormat. Sang wali memandang sekeliling, lalu mengangguk setuju. Sejak saat itu, mereka mulai menebang pohon dan meratakan semak hingga terbentuklah lahan luas yang kemudian menjadi cikal bakal sebuah padepokan.
Sang wali lalu berkata, “Kita akan menjadikan tempat ini sebagai pusat pengajaran agama. Masyarakat kelak bisa menimba ilmu di sini.” Untuk melengkapi padepokan, ia pun berencana mendirikan sebuah masjid agar dapat dipakai beribadah dan belajar bersama para santri.
Namun, sebelum pembangunan dimulai, sang wali terlebih dahulu melaksanakan salat hajat untuk memohon petunjuk. Ketika hendak berwudu, ia mencari-cari sumber air di sekitar padepokan. Sayangnya, ia tak menemukannya. Sang wali terus berjalan hingga ke arah selatan. Di sanalah ia menemukan sebuah sendang besar yang begitu indah. Airnya jernih, pepohonan hijau menaungi sekitarnya, dan suasananya begitu sejuk.
Sang wali segera mengambil air untuk berwudu. Namun, ketika menyentuh air sendang itu, ia terkejut. Airnya sangat dingin, bahkan dalam bahasa Jawa disebut ademe amit-amit, artinya dingin sekali hingga membuat tubuh bergetar. Ia tersenyum dan berkata kepada para pengikutnya, “Air sendang ini sungguh jernih dan suci, tetapi dinginnya luar biasa. Besok bila tempat ini ramai, biarlah desa ini dinamakan Demit, dari kata ademe amit-amit.”
Sejak saat itu, sendang tersebut menjadi sumber kehidupan. Bukan hanya dipakai untuk wudu, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Perlahan-lahan daerah itu berkembang menjadi permukiman. Warga berdatangan, menetap, dan memanfaatkan sumber air jernih itu sebagai penopang kehidupan mereka.
Nama Demit pun melekat hingga kini, bukan sebagai tempat seram seperti yang sering dibayangkan, melainkan sebagai simbol dari sebuah sendang yang memberi kesegaran, kesejukan, dan kehidupan bagi masyarakat sekitar. Kisah ini menjadi bukti betapa pentingnya air sebagai sumber pangan dan kehidupan, yang tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga menjadi sarana penyucian diri dalam ibadah.