Asal-usul Desa Dimong

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di wilayah Madiun terdapat sebuah desa bernama Dimong yang menyimpan kisah lama penuh makna. Desa ini tidak hanya dikenal karena peninggalan leluhur, tetapi juga karena keberadaan sebuah pohon beringin besar yang tumbuh megah di punden desa. Pohon itu menjadi saksi bisu perjalanan sejarah desa sekaligus sumber kehidupan, sebab hampir setiap bagian dari pohon beringin memiliki kegunaan bagi manusia.

Dahulu kala, Desa Dimong masih berupa hamparan hutan dan persawahan. Di Dusun Babadan Tengah, yang kini menjadi bagian dari Desa Dimong, terdapat sebuah tempat keramat yang dikenal dengan sebutan Mbah Puntuk. Lokasinya berada di area sawah belakang kantor desa. Tempat itu berupa gundukan tanah dengan pecahan bata kuno. Walaupun bukan punden dan tidak pula disebut petapan, masyarakat sering datang ke sana untuk melakukan ritual.

Sementara itu, punden sejati Desa Dimong terletak di sebelah utara rel kereta api, tepatnya di Dusun Babadan. Punden ini memiliki halaman luas dengan pohon beringin besar yang menjulang tinggi. Bagi masyarakat setempat, pohon beringin itu bukan sekadar pohon raksasa yang menaungi tanah, melainkan lambang perlindungan dan sumber pengobatan. Akar udara pohon ini dipercaya dapat digunakan untuk meredakan demam, menyembuhkan rematik, serta mengatasi luka memar. Daunnya berkhasiat mengobati flu, bronkitis, dan diare, sementara getahnya sering dipakai untuk merawat luka luar dan infeksi kulit. Kehadiran pohon beringin di punden desa seolah menunjukkan bahwa alam selalu menyediakan penawar bagi manusia.

Sejarah Desa Dimong juga berkaitan dengan tokoh-tokoh masa lalu. Di Desa Sirapan yang bertetangga, terdapat sebuah punden makam cikal bakal desa bernama Raden Tedjo Kusumo. Beberapa orang menyebutnya dengan nama Mbah Onggo Tedjo. Dalam cerita lain, tokoh ini dikenal sebagai Kyai Onggosroyo, sosok yang membabad hutan dan membuka Desa Sirapan. Ada kemungkinan besar keduanya adalah orang yang sama.

Masyarakat juga meyakini bahwa asal-usul nama Sirapan berasal dari sebuah peristiwa sederhana. Dikisahkan seorang prajurit berhenti untuk makan di tempat Raden Tedjo Kusumo, sehingga tempat itu kemudian dikenal sebagai Sirapan, dari kata “sarapan”. Cerita ini serupa dengan kisah Imam Sampurno yang juga dikaitkan dengan pembukaan desa dan tempat-tempat keramat di wilayah Madiun.

Kini, Desa Dimong tetap menjaga tradisi leluhurnya. Punden dengan pohon beringin besar masih menjadi tempat penting bagi masyarakat. Di bawah rindangnya, warga sering berkumpul untuk menggelar ritual atau sekadar beristirahat sambil menikmati sejuknya udara. Pohon beringin di sana bukan hanya warisan sejarah, melainkan juga simbol keseimbangan antara manusia dengan alam.

Bagi masyarakat Dimong, setiap akar, daun, dan getah dari pohon beringin adalah pengingat bahwa alam menyediakan obat dan perlindungan. Warisan itu bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijaga agar generasi mendatang tetap bisa merasakan manfaatnya. Dengan demikian, pohon beringin besar di Desa Dimong berdiri sebagai lambang kehidupan, perlindungan, serta hubungan harmonis antara manusia, leluhur, dan alam semesta.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.