Nama Gambiran berasal dari banyaknya tumbuhan gambir yang ditemukan di wilayah tersebut pada masa awal pembukaan hutan. Sekitar tahun 1790, seorang tokoh bernama Mbah Ake yang diyakini berasal dari Ponorogo datang ke kawasan yang saat itu masih berupa hutan lebat. Ia membuka lahan untuk tempat bermukim dan bercocok tanam. Hutan yang dibuka tersebut dipenuhi tanaman gambir—sejenis tumbuhan yang memiliki kemiripan dengan rotan.
Gambir dikenal sebagai tanaman serba guna dalam tradisi Nusantara. Bagian-bagiannya dimanfaatkan untuk kebutuhan obat tradisional, rempah, serta bumbu, sehingga keberadaannya memiliki nilai penting bagi masyarakat pada masa itu. Untuk mengenang ciri khas wilayah tersebut yang banyak ditumbuhi tanaman gambir, Mbah Ake kemudian menamai permukiman itu dengan nama Gambiran.
Seiring perkembangan zaman dan penataan pemerintahan desa, wilayah Gambiran terbagi menjadi tiga dusun, yaitu:
- Dusun Gambiran,
- Dusun Prambon, dan
- Dusun Bulusari.
Nama Gambiran menjadi identitas kultural yang tidak hanya merujuk pada sejarah pembukaan wilayah, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dan potensi tanaman gambir yang telah lama memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.