Asal Usul Desa Kebundadap Timur

URL Cerital Digital: https://kebundadaptimur.datadesa.com/2017/08/asal-usul-desa-kebun-dadap-timur.html

Di sebuah wilayah pesisir Madura, terdapat sebuah desa yang namanya begitu unik dan mudah diingat. Desa itu bernama Kebundadap. Banyak orang mungkin tidak mengetahui mengapa desa tersebut diberikan nama demikian, tetapi masyarakat setempat menyimpan sebuah kisah lama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kisah itu berawal dari seorang tokoh sepuh yang sangat dihormati oleh seluruh warga desa. Sosok itu dikenal dengan nama Mbah Adi.

Mbah Adi adalah seorang sesepuh yang tidak hanya dituakan karena ilmunya, tetapi juga karena kedekatannya dengan alam dan kebiasaannya bertafakur. Tidak jarang beliau pergi ke tempat tempat yang dianggap sakral untuk melakukan pertapaan. Dalam keheningan malam dan kesejukan angin yang menyentuh dedaunan, beliau memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar desanya selalu diberi keselamatan.

Suatu hari, saat sedang bertapa di tempat yang sering menjadi tujuan perenungannya, terdengar suara benda jatuh tepat di hadapannya. Mbah Adi terkejut, lalu mencari sumber suara tersebut. Di tanah, ia mendapati sebuah biji yang bentuknya tidak pernah ia lihat sebelumnya. Biji itu tampak keras, berkulit tebal, dan memiliki warna yang berbeda dari biji bijian yang biasa ditemukan di desa.

Setelah selesai bertapa, Mbah Adi kembali pulang. Dalam perjalanan pulangnya, ia singgah di sebuah pemakaman tua di Dusun Panggulan yang disebut sebagai pemakan putih karena tanahnya yang berpasir cerah. Di tempat itu, ia menaburkan biji misterius yang baru saja ia dapatkan. Ia tidak memiliki niat khusus, hanya mengikuti dorongan hati yang merasa bahwa biji itu harus disemai di tanah desa.

Hari berganti minggu, minggu berubah menjadi bulan, dan bulan pun menjadi tahun. Suatu ketika, Mbah Adi menyadari bahwa di sekitar pemakan putih tumbuh pohon pohon baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Pohon itu memiliki daun hijau lebat, batang kuat, serta dipenuhi duri duri kecil berwarna hitam yang tumbuh hampir di seluruh permukaannya. Karena ciri khasnya, Mbah Adi menamai pohon itu dengan nama pohon dadap.

Dari tahun ke tahun, pohon dadap semakin banyak tumbuh dan menyebar. Warga desa mulai memanfaatkannya. Selain digunakan sebagai pagar hidup karena durinya dapat menghalau hewan liar, beberapa bagian pohon dadap juga dimanfaatkan secara tradisional untuk kebutuhan pangan. Daun muda pohon dadap sering dijadikan bahan sayur atau campuran pelengkap hidangan khas desa, terutama dalam olahan sayur bening dan campuran lauk sederhana yang dibuat untuk ritual desa. Fungsinya bukan hanya sebagai pelengkap rasa tetapi juga sebagai penanda hubungan masyarakat dengan tumbuhan yang menjaga pekarangan rumah mereka tetap aman.

Pohon pohon dadap akhirnya tumbuh dari ujung barat sampai ke ujung timur desa. Ketika orang memandang dari kejauhan, desa itu tampak seperti sebuah taman besar yang dipenuhi dadap. Maka Mbah Adi memberi nama wilayah itu sebagai Kebundadap. Nama ini dipilih agar generasi berikutnya selalu mengingat asal usul pohon yang menaungi desa mereka dengan keteduhan dan manfaat.

Sebelum Indonesia merdeka, Kebundadap masih menjadi satu desa. Namun setelah merdeka, desa tersebut dibagi menjadi dua yaitu Kebundadap Barat dan Kebundadap Timur. Meski terpisah secara administratif, keduanya tetap membawa sejarah dan cerita yang sama.

Di Kebundadap Timur terdapat empat dusun dengan kisah asal usul nama masing masing. Salah satunya adalah Dusun Katapang. Dusun ini berada di bagian paling timur dan berbatasan langsung dengan Desa Tanjung. Konon, nama Katapang berasal dari kata pertapaan. Di wilayah itu dulu terdapat tempat bertapa para sesepuh desa, termasuk seorang tokoh terhormat bernama Kiai Nur Alam. Hingga kini, warga masih percaya bahwa doa doa dan laku tapa para leluhur memberikan berkah bagi kesuburan tanah dan tumbuhan yang hidup di desa tersebut, termasuk pohon dadap yang menjadi penanda identitas mereka.

Kisah tentang Mbah Adi dan pohon dadap bukan sekadar cerita masa lalu. Dari pohon ini, masyarakat belajar bahwa hal kecil yang dipercaya dan dijaga dapat memberikan manfaat besar bagi banyak orang. Pohon dadap bukan hanya tanaman, tetapi simbol keselarasan antara manusia dan alam. Biji yang awalnya tampak tidak berarti akhirnya menumbuhkan identitas, memberi pangan, dan menjaga kehidupan warga desa. Melalui kisah ini, kita diajak merenungkan bahwa alam selalu menyediakan apa yang kita butuhkan selama kita merawatnya dengan rasa syukur dan penuh kearifan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.