
Di sebuah dataran hijau di Kabupaten Malang terdapat sebuah desa yang dikenal dengan hamparan persawahannya yang luas dan subur. Desa itu bernama Mentaraman, sebuah nama yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga nilai tentang bagaimana tanah yang diolah dengan tekad dan doa dapat menjadi sumber pangan bagi banyak orang. Masyarakat setempat percaya bahwa kisah lahirnya desa ini erat kaitannya dengan perjuangan seorang kakek tua yang menghabiskan hidupnya untuk membuka lahan dan mencari petunjuk melalui laku tapa.
Nama Mentaraman dipercaya berasal dari rangkaian makna dalam bahasa Jawa. Men berarti senang atau suka. Tara merujuk pada semedi atau laku pertapaan. Man berkaitan dengan iman yang kuat. Ketiganya menggambarkan sosok yang teguh hati, senang menjalani laku batin, dan memiliki keyakinan besar terhadap kekuatan doa. Sosok itu adalah Mbah Sokariyo, seorang lelaki tua yang berasal dari daerah Mataram di Yogyakarta. Ia datang ke wilayah yang saat itu masih berupa hutan lebat, dengan tujuan membuka lahan baru yang dapat digunakan masyarakat.
Konon pada tahun 1802, Mbah Sokariyo tiba di tempat itu hanya dengan perlengkapan sederhana. Hutan yang ia hadapi begitu rapat dan penuh pepohonan besar. Namun ia tidak gentar. Setiap hari ia menebang semak belukar, membersihkan batu batu besar, dan membuat jalur agar cahaya matahari dapat masuk. Pada malam hari ia melakukan semedi, memohon petunjuk agar tanah yang ia garap dapat menjadi tempat yang membawa kebaikan.
Keyakinannya tidak sia sia. Dengan kerja keras bertahun tahun, lahan itu perlahan berubah menjadi tanah datar yang siap digarap. Ketika air sungai kecil di dekatnya dialirkan ke lahan itu, terbentuklah sawah yang dapat ditanami padi. Sejak saat itu, wilayah tersebut mulai menghasilkan bahan pangan pokok yang amat penting bagi masyarakat. Padi yang tumbuh menjadi berkah yang tak terhingga, menghidupi keluarga keluarga yang menetap di sekitarnya. Hasil panen yang melimpah membuat lahan itu menjadi pusat pertanian yang menjanjikan.
Masyarakat yang datang kemudian membangun rumah di sekitar sawah itu. Pemukiman tersebut dinamakan Dukuh Mentaraman untuk menghormati asal usul Mbah Sokariyo yang berasal dari Mataram serta makna spiritual dari namanya. Dukuh ini berada di bawah wilayah Desa Donomulyo hingga akhirnya pada tahun 1998 memisahkan diri dan menjadi desa mandiri. Pada tanggal 15 Juli 2000, Desa Mentaraman diresmikan oleh Bupati Malang H. Muhammad Said.
Hingga sekarang, persawahan di Desa Mentaraman tetap menjadi nadi kehidupan warganya. Tanah yang dahulu dibuka oleh seorang kakek tua kini menjadi ruang penting untuk menanam padi, menyediakan pangan, dan menopang ekonomi masyarakat. Lahan sawah itu bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi juga simbol hubungan antara manusia dengan alam. Setiap tetes keringat petani yang menggarap sawah menghadirkan kembali nilai nilai yang diwariskan Mbah Sokariyo yaitu kerja keras, ketekunan, dan keyakinan.
Kisah asal usul Desa Mentaraman memberikan pesan reflektif bagi kita semua. Tanah yang subur bukan hanya hasil kerja tangan, tetapi juga hasil dari penghormatan terhadap alam dan kepercayaan bahwa alam akan memberi balasan yang sepadan. Persawahan tidak hanya menghasilkan padi sebagai makanan pokok, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur, kebersamaan, dan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Cerita ini mengingatkan bahwa kearifan lokal hidup dalam setiap tindakan merawat tanah, sebab dari tanahlah kehidupan berawal dan masa depan dipertahankan.