Asal Usul Desa Ngrojo

URL Cerital Digital: https://www.bloktuban.com/2023/12/17/sejarah-desa-ngrojo-tuban-dan-nasi-ajaib-yang-tak-pernah-habis-dimakan-37680.html#:~:text=Hanya%20sesekali%20pergi%20untuk%20mencari,terlebih%20dahulu%20mempunyai%20hal%20itu.&text=Dibahas%20mengenai%20tradisi%20yang%20ada,dikarenakan%20dananya%20sendiri%20masih%20terbatas.

Di Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, terdapat sebuah desa bernama Ngrojo. Desa ini kini dihuni sekitar seribu lima ratus jiwa dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, sementara sebagian lain berprofesi sebagai pedagang di pasar desa. Seperti banyak desa di Jawa, Ngrojo memiliki sejarah yang unik dan sarat makna, diwariskan dari kisah para leluhur yang membuka lahan dan memberi nama pada tempat tersebut.

Konon, desa ini berawal dari kisah seorang tokoh bernama Mbah Sangkep atau Sakep. Ia dikenal sebagai perempuan cantik yang juga seorang penari kesenian tayub. Namun, keistimewaan Mbah Sangkep bukan hanya pada kecantikannya atau tariannya. Ia dikisahkan memiliki sebuah benda gaib berupa beras yang selalu dapat diolah menjadi nasi tanpa pernah habis. Nasi itu bisa dimakan berkali-kali sepanjang hidupnya, sehingga Mbah Sangkep tidak perlu bekerja keras mencari sumber pangan. Ia hanya sesekali mencari lauk tambahan untuk menemani nasi yang ajaib itu. Setelah ia meninggal dunia, nasi tersebut hilang begitu saja dan tidak pernah ditemukan kembali.

Selain kisah nasi ajaib, asal-usul nama Desa Ngrojo juga memiliki versi lain. Ada yang mengatakan bahwa kata Ngrojo berasal dari kata raja, sebab pada masa lampau desa ini pernah menjadi tempat tinggal seorang raja. Ada pula cerita yang menyebut bahwa di wilayah ini dahulu banyak tumbuh pohon pisang raja. Pohon ini begitu lekat dalam kehidupan masyarakat karena buahnya menjadi pangan lokal yang mudah didapat, manis rasanya, dan dapat diolah dalam berbagai cara. Pisang raja dapat dimakan langsung, digoreng, direbus, bahkan dijadikan bahan untuk membuat kue tradisional. Kehadiran pohon pisang raja bukan hanya memberi nama, tetapi juga menjadi simbol kesuburan dan kecukupan pangan bagi warga desa.

Seiring perjalanan waktu, kisah desa tidak hanya berhenti pada Mbah Sangkep atau pohon pisang raja. Pada generasi berikutnya, muncullah tokoh lain yang disegani bernama Mbah Kuswo Sarjono. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha kayu yang kuat dan berpengaruh. Konon, sebelum masyarakat lain mengenal pistol atau kuda tunggangan, Mbah Kuswo Sarjono sudah memilikinya. Karena pengaruh dan kekuatannya, ia sering disebut sebagai pemimpin yang merajai wilayah sekitar Bangilan dan Senori. Dari sinilah muncul istilah Ngrojo yang bermakna menguasai atau merajai.

Hingga kini, masyarakat Desa Ngrojo tetap melestarikan tradisi lama yang disebut manganan atau sedekah bumi. Dahulu tradisi ini dilakukan di makam-makam leluhur, tetapi sekarang dilaksanakan di balai desa. Acara ini biasanya digelar setelah panen raya sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Kesenian tradisional seperti wayang dan ketoprak turut memeriahkan perayaan tersebut, menjadikannya momen kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya.

Kisah Desa Ngrojo memperlihatkan bagaimana pangan dan alam selalu hadir dalam sejarah masyarakat. Dari nasi ajaib milik Mbah Sangkep hingga pohon pisang raja yang memberi nama pada desa, semuanya menunjukkan betapa erat hubungan manusia dengan sumber pangan. Hingga hari ini, pisang raja tetap menjadi bagian penting dalam kuliner masyarakat Jawa Timur, melambangkan kesederhanaan, kelimpahan, dan ikatan dengan tradisi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.