Pada abad ke-18, di tanah Pacitan, berdirilah sebuah wilayah kecil bernama Dukuh Penggung. Saat itu, wilayah ini berada di bawah kepemimpinan seorang demang bernama Sontorejo. Ia dikenal bijaksana dan dihormati karena membawahi beberapa dukuh lain, seperti Sengon, Petunggero, Salam, dan Pagersari.
Konon, kehidupan masyarakat Penggung berubah ketika seorang lelaki asing datang ke daerah itu. Tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya orang tersebut. Namanya tidak tercatat, namun tutur orang tua mengatakan bahwa ia memiliki kesaktian sekaligus ketekunan yang luar biasa. Lelaki itu senang bekerja keras dan tidak pernah menetap lama di satu tempat. Meski hidupnya berpindah-pindah, setiap jejak langkah dan kerja tangannya selalu membawa berkah bagi tanah yang diinjaknya.
Berkat kerja kerasnya, wilayah Penggung perlahan menjadi tanah yang subur dan makmur. Sawah-sawah hijau menghampar, hasil panen berlimpah, dan kehidupan masyarakat terasa tenteram. Kehadiran orang misterius itu begitu besar pengaruhnya, hingga ia dianggap sebagai sosok yang membawa keberkahan. Namun, pada tahun 1854, ia wafat dan dimakamkan di Penggung. Makamnya hingga kini masih dikenal sebagai Punden Penggung, tempat yang disakralkan oleh warga setempat.
Beberapa tahun setelah peristiwa itu, Demang Sontorejo diundang menghadiri Pisowanan Agung oleh Adipati Pacitan. Dalam pertemuan tersebut, setiap demang diminta melaporkan keadaan wilayahnya. Dengan bangga, Demang Sontorejo menceritakan bagaimana Penggung kini hidup aman, subur, dan lohjinawi.
Sang adipati terkesan dengan cerita itu. Ia lalu berpesan kepada Demang Sontorejo agar segera mengadakan tasyakuran begitu kembali ke Penggung. Mendengar titah itu, sang demang pun pulang dan segera menyiapkan sebuah perayaan syukur.
Di tengah perayaan itu, masyarakat berkumpul untuk membuat tumpeng besar. Tumpeng, makanan yang ditata rapi berbentuk kerucut menyerupai gunung, memang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa. Bentuknya melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, serta doa agar rezeki dan keselamatan selalu tercurah. Tumpeng besar yang disajikan kala itu menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur atas kesuburan tanah Penggung.
Sejak saat itu, tasyakuran dengan tumpeng besar menjadi penanda lahirnya sebuah desa. Nama Penggung diyakini berasal dari gabungan kata Tumpeng dan Agung, yang berarti “tumpeng yang besar”. Nama ini mengabadikan momen kebersamaan warga dalam bersyukur atas berkah alam yang mereka terima.
Kini, Desa Penggung tetap menyimpan kisah itu dalam ingatan kolektif warganya. Setiap kali tumpeng dihidangkan dalam acara adat atau slametan, masyarakat kembali diingatkan pada nilai kerja keras, kebersamaan, serta rasa syukur yang diwariskan oleh leluhur mereka. Tumpeng bukan sekadar sajian makanan, melainkan simbol spiritual yang menyatukan harapan dan doa seluruh warga.