Asal Usul Desa Prayungan

URL Cerital Digital: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Prayungan,_Sumberejo,_Bojonegoro

Di tanah subur Bojonegoro, ada sebuah kisah lama yang hingga kini masih lekat dalam ingatan masyarakat. Kisah itu bercerita tentang seorang tokoh sakti bernama Kyai Tjok Brosot. Ia dikenal sebagai petani yang bukan hanya pandai bercocok tanam, tetapi juga memiliki kesaktian yang membuat hasil pertaniannya berbeda dari yang lain.

Konon, setiap kali Kyai Tjok Brosot menanam padi, sawahnya selalu menghasilkan panen berlimpah. Ulen atau bulir padi yang tumbuh begitu panjang, bahkan mencapai satu lengan lebih. Tidak ada satu pun petani yang mampu menyaingi kesuburan sawah dan hasil panen Kyai Tjok Brosot. Kabar ini menyebar ke berbagai penjuru, hingga akhirnya terdengar oleh Putro Kyai Sendang, seorang tokoh lain yang tidak kalah cerdik dan ingin menantang kesaktian Kyai Tjok Brosot.

Putro Kyai Sendang kemudian mengajukan sebuah sayembara. Ia menantang Kyai Tjok Brosot untuk adu kesaktian di bidang pertanian. Tantangannya adalah menanam padi yang meskipun tampak pendek, namun mampu menghasilkan panen yang melimpah dengan bulir panjang. Mendengar tantangan itu, Kyai Tjok Brosot dengan tenang menyanggupi. Baginya, tidak ada yang mustahil selama ia bersatu dengan tanah, air, dan doa yang dipanjatkan.

Di hadapan masyarakat yang berkumpul, Kyai Tjok Brosot menyatakan kesediaannya dengan sebuah syarat. Ia berkata, “Tak ladeni apa sing dadi kekarepanmu, lan menawa aku kalah, Nyai Tani dak pasrahke sliramu. Ananging yen ora gelem karo sliramu, Nyai Tani ojo dipekso.” Ucapan itu menandai dimulainya pertandingan yang bukan sekadar adu kesaktian, tetapi juga menjadi hiburan sekaligus doa bersama agar bumi selalu diberkahi.

Sayembara menanam padi itu berlangsung dengan penuh perhatian dari warga sekitar. Mereka menyaksikan bagaimana dua tokoh sakti menunjukkan keahliannya di sawah. Setiap bulir padi yang tumbuh seakan menyimpan doa dan harapan akan kehidupan yang sejahtera. Pertandingan itu bukan hanya persoalan siapa yang menang atau kalah, melainkan juga sebuah gambaran tentang betapa pentingnya padi sebagai sumber kehidupan masyarakat.

Sejak saat itu, kisah Kyai Tjok Brosot dan Putro Kyai Sendang menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus diwariskan. Padi bukan sekadar makanan pokok, tetapi juga simbol keberkahan dan kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Pertanian menjadi pusat kehidupan, dan setiap panen selalu dirayakan dengan syukur dan kebersamaan.

Nama Desa Prayungan pun diyakini lahir dari jejak kisah sayembara ini. Di tanah itu, masyarakat tidak hanya menanam padi untuk mengisi perut, tetapi juga untuk menjaga tradisi, mempererat persaudaraan, dan merayakan nikmat Tuhan melalui hasil bumi.

Hingga kini, cerita tentang asal usul Desa Prayungan terus mengingatkan generasi muda bahwa pertanian adalah sumber kehidupan yang harus dijaga. Padi bukan hanya sekadar tanaman, melainkan juga warisan yang menyimpan nilai kebijaksanaan, persaingan yang sehat, dan doa agar keberkahan selalu menyertai bumi Bojonegoro.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.