Asal Usul Desa Purworejo

URL Cerital Digital: https://purworejo.magetan.go.id/

Di sebuah lembah subur di Kabupaten Magetan, terdapat sebuah desa yang kini dikenal dengan nama Purworejo. Nama itu bukanlah sebutan lama, sebab dahulu wilayah ini terdiri dari beberapa dukuh kecil, yakni Dukuh Ngladek, Dukuh Ngiwen, dan Dukuh Jajar. Ketiga dukuh ini hanya dipisahkan oleh sebidang tanah, sehingga kehidupan warganya saling berhubungan erat.

Awalnya, wilayah ini bernama Desa Ngiwen. Pemimpinnya disebut Palang, meski kisah tentang Palang pertama kini telah banyak terlupakan. Setelahnya, jabatan itu diwariskan kepada Ronoidjojo, lalu kepada putranya yang bernama Lebuk, dan akhirnya kepada Djojokromo. Di masa Djojokromo, sekitar awal 1900an, adat istiadat desa makin teratur. Beliau dikenal sebagai sosok yang menekankan pentingnya menjaga tradisi leluhur.

Salah satu warisan yang masih lestari adalah upacara bersih desa. Warga berkumpul di bawah pohon sambi yang berdiri megah di tengah sawah. Di sana mereka menggelar selamatan sederhana, mempersembahkan nasi tumpeng, sayuran, dan hasil bumi lainnya sebagai ungkapan syukur. Tidak lupa, mereka menghadirkan kesenian tradisional seperti tari Gambyong dan pertunjukan wayang kulit. Upacara ini dianggap sakral, sebab selain melestarikan budaya, ia juga menjadi doa bersama agar desa selalu sehat, makmur, dan terhindar dari mara bahaya.

Di samping Desa Ngiwen, terdapat pula Desa Ngladek. Warga Ngladek juga melaksanakan tradisi bersih desa, dipimpin oleh kepala desa mereka sendiri. Lama-kelamaan, jumlah penduduk makin bertambah, kehidupan menjadi ramai, dan pemerintah kolonial menuntut adanya perubahan. Pada tahun 1905, sepeninggal Djojokromo, kedua desa kecil ini kemudian digabungkan.

Pemilihan kepala desa diadakan dengan cara unik yang disebut tok-tok glatok. Warga berdiri berjejer di belakang calon jagonya, lalu dihitung satu per satu. Dari pemilihan ini, Atmoredjo atau yang akrab disapa Radijo terpilih menjadi pemimpin. Sejak saat itu, atas perintah Bupati Magetan, nama Ngiwen diganti dengan Purworejo. Kata “purwo” berarti wiwit atau awal mula, sedangkan “rejo” berarti ramai. Maka, Purworejo menjadi lambang kehidupan baru yang lebih ramai dan maju.

Sejak itu, Purworejo tumbuh menjadi desa yang dinamis. Tradisi bersih desa terus dijaga turun-temurun, tidak hanya sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kebersamaan antarwarga. Hasil bumi yang dipersembahkan dalam upacara menjadi simbol kesejahteraan, bahwa pangan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk merajut doa dan harapan bersama.

Hingga kini, kisah tentang Desa Purworejo masih hidup di tengah masyarakat. Nama desa itu selalu mengingatkan bahwa sebuah kebersamaan dapat tumbuh dari tanah yang subur, dari doa yang dilantunkan bersama, dan dari pangan yang dipersembahkan dengan tulus kepada Sang Pencipta.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.