Pada masa lalu, jauh sebelum Desa Sumberrejo dikenal seperti sekarang, wilayah ini hanyalah lahan belantara. Hutan lebat menutupi tanah, sementara suara burung dan serangga menjadi penghuni setia. Belum ada permukiman, belum ada sawah, hanya semak dan pepohonan yang tumbuh liar.
Dikisahkan, seorang tokoh keturunan Wali Songo bernama Mbah Noloyudho datang ke wilayah itu. Beliau adalah sosok yang disegani, membawa misi membuka lahan baru untuk tempat tinggal sekaligus menyebarkan ajaran kebaikan. Ketika ia melakukan babat alas, pohon pertama yang ditemuinya adalah tanaman kelorak. Bunga kelorak memiliki bentuk unik, bulat kecil, mirip dengan pentol yang menjadi makanan rakyat. Karena itulah, wilayah baru tersebut diberi nama Penthoel, terinspirasi dari tanaman yang menyambut kedatangan Mbah Noloyudho.
Awalnya, Penthoel masih sepi. Belum ada penduduk yang menetap. Namun, dengan tekad membangun kehidupan, Mbah Noloyudho mendirikan sebuah padepokan silat. Padepokan ini tidak hanya menjadi tempat berlatih bela diri, tetapi juga pusat berkumpulnya masyarakat dari daerah sekitar. Dari hari ke hari, desa yang semula sunyi berubah menjadi ramai. Suara hentakan kaki para pesilat, pekik semangat, dan lantunan doa menjadi tanda bahwa Penthoel mulai hidup.
Seiring berkembangnya desa, masyarakat mulai menyadari manfaat tanaman kelorak yang sejak awal menjadi penanda wilayah. Daunnya dimanfaatkan sebagai sayur yang bergizi, dipercaya mampu menambah tenaga dan menjaga kesehatan. Kehadirannya begitu dekat dengan masyarakat, bahkan menginspirasi nama desa. Pangan sederhana ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, melengkapi kebutuhan gizi para pesilat di padepokan dan warga desa pada umumnya.
Waktu terus berjalan. Desa Penthoel akhirnya berkembang pesat dan berganti nama menjadi Desa Sumberrejo, sebuah nama yang mencerminkan harapan kemakmuran serta sumber rezeki yang tak pernah habis. Namun, kisah tentang tanaman kelorak dengan bunga mirip pentol tetap hidup dalam ingatan warga. Bagi mereka, tanaman itu adalah simbol awal mula kehidupan desa, sekaligus pengingat bahwa pangan lokal sederhana bisa memberi arti besar bagi kelangsungan sebuah komunitas.
Kini, meski zaman sudah berubah, masyarakat masih menjaga cerita tentang kelorak sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah. Tidak hanya sebagai pangan, kelorak menjadi penanda jati diri desa, mengajarkan bahwa setiap tanaman yang tumbuh di bumi memiliki nilai, baik sebagai makanan, obat, maupun lambang kebersamaan.