
Di sebuah lembah hijau di Kabupaten Malang terdapat sebuah desa yang dikenal karena kejernihan airnya dan kesuburan tanahnya. Desa itu bernama Sumbersekar. Masyarakat setempat percaya bahwa nama ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kisah lama yang diwariskan turun temurun, kisah yang melibatkan seorang pertapa tua dan sebuah mata air bening yang hingga kini tetap mengalir tanpa henti. Mata air itu menjadi pusat kehidupan, menjadi sumber pangan paling dasar yang menopang keseharian warga.
Nama Sumbersekar berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu sumber yang berarti mata air dan sekar yang berarti bunga. Sumber mata air itu disebut Umbul Sekar, airnya begitu bersih dan jernih sehingga terlihat seperti kaca yang memantulkan cahaya matahari. Konon dahulu kala, di sekitar tempat itu hidup seorang pertapa tua yang senang menyendiri di tengah alam. Ia tinggal tidak jauh dari sebuah cekungan tanah yang masih kering. Setiap hari ia berdoa dan memohon agar wilayah itu diberi kehidupan sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Suatu hari, ketika sang pertapa mendalami doa yang panjang, terdengar suara gemericik dari bawah tanah. Perlahan lahan muncul mata air dari sela sela batu yang sebelumnya tampak tandus. Air itu mengalir semakin deras, memenuhi cekungan, hingga akhirnya berubah menjadi sumber air yang jernih, segar, dan tak pernah kering. Warga percaya bahwa mata air ini adalah jawaban dari doa sang pertapa yang memohon agar tanah itu hidup dan bermanfaat.
Mata air tersebut kemudian digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari hari seperti minum, mandi, serta memasak. Bahkan hingga kini, alirannya mengairi sawah sawah milik warga, memastikan bahwa tanaman pangan seperti padi, sayuran, dan buah buahan dapat tumbuh dengan subur. Dalam kehidupan agraris desa, keberadaan Umbul Sekar adalah anugerah besar. Tanpa sumber air, tidak akan ada hasil panen, dan masyarakat tidak akan dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Selain menjadi sumber air, kata sekar atau bunga juga memiliki makna khusus. Bunga yang tumbuh tanpa dipaksa, mekar dengan sendirinya, dan mengeluarkan aroma harum dianggap melambangkan kesejahteraan dan keindahan hidup. Sang pertapa tua memilih nama Sumbersekar karena ingin desa ini menjadi tempat yang selalu berkembang, harum, dan memberi kehidupan bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
Desa Sumbersekar yang kini berada di Kecamatan Dau juga memiliki sejarah panjang di masa kolonial Belanda. Pada zaman dulu, pemerintahan kecamatan berpusat di wilayah ini, tepatnya di Dusun Dau yang sekarang dikenal sebagai Dusun Krajan. Ketika masa pendudukan berakhir dan wilayah itu diserahkan kepada Republik Indonesia, Kecamatan Dau dipimpin oleh seorang camat bernama Hadi Siswoyo. Nama Dau kemudian diberi makna Dadiyo Ayem e Urip yang berarti jadilah tempat ketenangan hidup. Makna itu memperkuat keyakinan bahwa wilayah ini selalu dikaitkan dengan kedamaian, kesuburan, dan kejernihan airnya.
Kini, masyarakat Sumbersekar tetap menjaga Umbul Sekar sebagai sumber kehidupan. Airnya digunakan dengan penuh syukur dan dirawat agar tetap bersih serta tidak tercemar. Bagi warga, mata air adalah wujud kearifan alam yang harus dihormati. Tanpa perawatan, sumber air bisa hilang atau rusak, dan itu berarti hilangnya sumber pangan yang menjadi dasar keberlangsungan hidup.
Kisah asal usul Desa Sumbersekar mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Mata air yang muncul dari doa sang pertapa tua menjadi simbol bahwa kehidupan berasal dari ketulusan dan kepedulian. Dengan melestarikan alam, kita juga sedang melestarikan masa depan. Melalui cerita ini, kita belajar bahwa kearifan lokal tidak hanya tersimpan dalam nama desa, tetapi juga dalam cara masyarakat menjaga lingkungan sebagai bagian dari identitas mereka.