Asal Usul Desa Sumurgung Tuban

URL Cerital Digital: https://bloktuban.com/2023/05/04/asal-usul-desa-sumurgung-tuban-berawal-dari-adanya-sumur-wali-34702.html

Di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, terdapat sebuah desa bernama Sumurgung. Desa ini kini terbagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Sumurgung dan Dusun Wotan, dengan kehidupan masyarakat yang sederhana namun sarat tradisi. Nama desa ini memiliki kisah yang menarik, yang tak lepas dari sebuah sumur tua yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam ingatan warganya.

Menurut cerita yang diwariskan turun temurun, di sebelah selatan desa pernah berdiri sebuah sumur yang berbeda dari sumur-sumur biasa. Sumur itu dikenal sebagai Sumur Wali, dan masyarakat setempat menyebutnya sebagai Sumur Gung. Konon, sumur ini sudah ada sejak zaman dahulu kala dan dahulu menjadi sumber utama air bagi warga sekitar. Di sanalah orang-orang menimba air untuk minum, memasak, maupun mengairi kebutuhan sehari-hari.

Sumur itu begitu penting sehingga kemudian nama desa diambil dari keberadaan sumur tersebut. Dari “Sumur Gung” lahirlah nama Sumurgung. Meski kini sumurnya telah dangkal dan tidak lagi mengeluarkan air sebagaimana dulu, kisah dan keberadaannya tetap terjaga dalam ingatan warga. Bagi mereka, sumur ini adalah simbol kehidupan dan asal mula berdirinya desa.

Selain menyimpan sejarah yang berkaitan dengan sumber air, Desa Sumurgung juga memiliki tradisi yang kuat. Salah satunya adalah Haul atau manganan, yaitu tradisi peringatan kematian untuk mendoakan arwah agar amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Tradisi ini masih dilestarikan hingga hari ini. Setiap tahun, biasanya pada bulan Mei hingga Juni, warga melaksanakan haul di tujuh makam desa secara bergantian selama tujuh minggu. Setiap pekan, pengajian dilakukan di makam berbeda, dimulai dari wilayah barat menuju ke timur. Suasana haul bukan hanya menjadi momen doa, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

Masyarakat Desa Sumurgung mayoritas bekerja sebagai petani. Lahan pertanian mereka luas, ditanami padi, kacang, dan jagung. Semua itu dikelola dengan memanfaatkan air sumur dan air bor, yang menjadi kelanjutan dari tradisi masyarakat yang sejak dulu bergantung pada sumber air tanah. Selain itu, desa ini juga memiliki kebun blimbing dan kelengkeng, meski hasil panen kelengkeng belum maksimal.

Sumurgung juga dikenal sebagai desa yang religius. Hampir seluruh warganya beragama Islam, dan nilai kebersamaan serta tradisi keagamaan sangat kental dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat, nama Sumurgung bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kisah tentang sebuah sumur yang dahulu menjadi sumber air minum, tentang berkah yang memberi kehidupan bagi generasi terdahulu, serta tentang bagaimana sebuah tempat tumbuh dari ikatan antara manusia, air, dan tanah. Hingga kini, meski sumurnya tidak lagi memancar seperti dulu, warisan nilai dan kisahnya tetap mengalir dalam kehidupan masyarakat Sumurgung.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.