
Di sebuah kawasan subur di Kabupaten Malang terdapat desa yang dikenal sebagai sentra pertanian dan sumber pangan bagi warganya. Desa itu bernama Tanggung. Nama ini tidak hanya menjadi penanda wilayah, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang kepemimpinan, tempat berkumpulnya para tokoh, serta kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada hasil bumi. Pertanian telah menjadi denyut utama desa ini sejak masa kerajaan hingga masa perjuangan rakyat di era kolonial.
Nama Tanggung diyakini berasal dari kata tamnggung yang bermakna panglima atau pemimpin. Kata itu juga dapat dipahami sebagai penanggung jawab, seseorang yang diberi amanat besar. Dahulu, ketika Kerajaan Mataram Kuno berdiri di bawah kepemimpinan Mpu Sindok, wilayah Turen dipercaya sebagai tempat penting. Mpu Sindok memerintahkan salah satu abdinya yang bernama Mpu Satya untuk membangun sebuah tempat ibadah di kawasan ini. Setelah tempat ibadah itu rampung, wilayah tersebut kemudian dihadiahkan sebagai wilayah perdikan yang bebas pajak, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Watu Godeg tahun 929 Masehi.
Pada masa berikutnya, ketika Kerajaan Singhasari berjaya, wilayah ini menjadi tempat berkumpulnya para punggawa dan tumenggung kerajaan. Mereka sering menjadikannya lokasi beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah selatan. Selain beristirahat, mereka juga melakukan upacara keagamaan dan kadang bersenang senang di Taloka, yang kini dikenal sebagai Desa Talok. Tempat yang sekarang menjadi Desa Tanggung itu pada masa lampau berfungsi sebagai titik persinggahan para pemimpin dan prajurit, membuat kata tamnggung semakin melekat sebagai nama wilayah.
Ketika Perang Jawa meletus dan Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap oleh pemerintah kolonial melalui tipu daya, banyak pengikut setianya melarikan diri dan berpencar ke berbagai wilayah di Jawa. Sebagian dari mereka menuju Malang selatan, daerah yang sejak masa Singhasari telah dihuni oleh masyarakat yang hidup dari pertanian. Kehidupan agraris membuat banyak pendatang dapat menyatu dengan warga setempat karena mereka sama sama menggantungkan hidup pada hasil ladang dan sawah.
Para pengikut Diponegoro itu di antaranya adalah Mbah Kasidu dari Desa Kedok, Mbah Muharram dari Desa Jeru, dan Mbah Mulud dari Desa Talok. Mereka berkoordinasi di bawah Mbah Brojo Danu dari wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Tanggung. Mereka sering berkumpul di tempat itu untuk menyusun strategi, bertukar kabar, dan saling menjaga keselamatan sesama pejuang. Tempat pertemuan itu dulunya merupakan lokasi yang digunakan para tumenggung kerajaan untuk beristirahat. Karena itulah, nama Tanggung yang berasal dari kata tamnggung tetap dipertahankan.
Seiring berjalannya waktu, desa ini berkembang sebagai wilayah dengan lahan pertanian yang luas. Tanahnya subur dan selalu menghasilkan berbagai tanaman pangan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Padi, jagung, sayur sayuran, dan umbi umbian tumbuh dengan baik berkat kerja keras para petani. Pertanian kemudian menjadi mata pencaharian utama sekaligus sumber pendapatan yang menghidupi generasi demi generasi. Bagi masyarakat Tanggung, lahan bukan sekadar hamparan tanah, tetapi warisan dari leluhur yang harus dijaga agar terus dapat menghasilkan pangan bagi seluruh warga.
Kisah asal usul Desa Tanggung bukan hanya cerita sejarah, tetapi juga pengingat tentang arti kerja sama, keteguhan hati, dan hubungan manusia dengan tanah yang memberi mereka kehidupan. Pertanian yang menjadi sumber pangan utama mengajarkan bahwa kesejahteraan berasal dari tanah yang diolah dengan tekun serta dijaga dengan rasa hormat. Melalui cerita ini, kita diajak memahami bahwa kearifan lokal tidak hanya terdapat dalam nama desa, tetapi juga dalam cara warga memelihara alam. Dengan menjaga tanah dan hasil pertanian, mereka menjaga warisan leluhur sekaligus memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.